Lebaran tahun ini kebetulan jatuh pada 1 Oktober, bersamaan dengan peringatan Hari Kesaktian Pancasila yang setiap tahunnya diperingati pada tanggal yang sama. Bisa jadi kebetulan ini merupakan pertanda bagi bangsa Indonesia agar sungguh-sungguh iklas menerima sejarah kelam itu kemudian memaafkannya.
Khususnya para korban dan keluarga korban dari semua rentetan tragedi kemanusiaan yang terjadi setelah malam jahanam 43 tahun lampau. Baik korban dari pihak TNI dan terutama semua pihak yang ikut menanggung derita karena dituding bagian dari PKI.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Tinggal sekarang yang masih menjadi masalah, bahkan api dendam, yaitu interpretasi terhadap sejarah. Penghentian pemutaran rutin film G30S/PKI di televisi nasional pada setiap 30 September dan tidak ada lagi prosesi menengok dioarama di Monumen Pancasila Sakti oleh Kepala Negara seusai upacara beberapa tahun terakhir, tidak juga menyurutkan subyektivitas yang mengiringi interpretasi sejarah.
Seiring perjalanan 10 tahun reformasi, subyektivitasnya malah kian merambat bagian sejarah lainnya bangsa setelah G30S/PKI. Salah satunya adalah Surat Perintah Sebelas Maret (Supersemar) yang mengawali peralihan dari Orde Lama ke Orde Baru.
Moment Idul Fitri yang bersamaan dengan Hari Kesaktian Pancasila ini hendaknya jadi peringatan bagi semua pihak yang mengetahui obyektivitas sejarah bangsa untuk segera mengungkapnya. Makin lama masyarakat tidak mengetahui kebenarannya, makin lama bangsa ini hidup dalam prasangka dan kian sulit untuk saling memaafkan. (lh/irw)











































