Empat balita yang menjadi korban tewas itu adalah La Firlan (4), La Rizki (4), Adelan La Juni (2,5), dan Wa Bine (3). Jenazah Firlan dan Rizki sudah dievakuasi, sementara jenazah Adelan La Juni dan Wa Bine karam bersama kapal.
Lima korban tewas lainnya adalah Wa Ida (70), Wa Fitri (7), Wa Enu (59), Wa Ani (55), dan Wa Asih (13). Dari tujuh yang ditemukan, ada dua jenazah yang belum teridentifikasi, karena terbakar hangus, sehingga susah dikenali.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Tidak lama setelah mendapat laporan ada kapal terbakar, Tim SAR Ambon yang berpos di Bandar Internasional Pattimura dan Polisi KPPP Ambon menuju TKP. Dari data polisi KPPP, 63 orang selamat.ย Hingga Sabtu (27/9/2008), pihak SAR, Polairud dan KPPP, terus melakukan pencarian para korban korban tewas dan korban hilang di sekitar perairan Tanjung Allang dan perairan teluk Ambon, hingga ke pesisir pantai Maluku Tengah.
La Ode Idris (31) salah satu ABK yang kini diamankan bersama nakhoda dan tiga ABK lainnya menuturkan saat berlayar hingga depan tanjung Allang, tiba-tiba ada asap hitam muncul. Melihat asap hitam itu, para penumpang pun panik. "Dari asap, semua penumpang berlarian. Sebagian langsung terjun ke laut," ujar Idris.
Saat kapal terbakar, sejumlah warga desa Allang, dengan menggunakan sampan langsung menolong warga yang terjun ke laut atau yang sudah meninggal. "Kami dibawa ke desa Allang," ujarnya.
Para korban selamat saat ini tengah dievakuasi di wisma Atlit, Karang Panjang Ambon. Sementara korban luka bakar danย pingsan dievakuasi ke RSU dr Haulussy dan RSU Al-Fatah Ambon.
Pihak Polres Ambon terus melakukan penyelidikan terhadap kapal naas ini. "Kami masih menyelidikinya. Tapi hasil investigasi sementara menunjukkan kapal melebihi kapasitas, tidak punya izin berlayar, berlayar dari pelabuhan tidak resmi," ujar Kapolres Ambon, AKBP Didik Widjanarko, saat ditemui detikcom dikediamannya, Sabtu (27/9/2008).
(han/asy)











































