Sekalipun untuk jarak jauh, penggunaan sepeda motor sebagai sarana transportasi mudik memang menjadi tren tersendiri beberapa tahun ini. Motor dinilai ekonomis dan praktis untuk menghindari kemacetan. Sayangnya motor seringkali tidak bisa mengakomodir budaya masyarakat yang mudik dengan bawaan banyak.
"Motor tentu saja lebih murah, biasanya saya hanya menghabiskan Rp 45-50 ribu dan saya bebas beristirahat kapan dan di mana saja. Sayangnya kalau menggunakan motor saya tidak bisa membawa banyak barang," ujar Adi (26) di Terminal Lebak Bulus, Jaksel, Jumat (26/9/2008).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Ini pengalaman pertama saya mudik menggunakan bus. Sebelumnya saya selalu menggunakan sepeda motor. Sudah 5 kali saya be Blora, Semarang. Dengan menggunakan bus, saya harap bisa membawa lebih banyak barang dan oleh-oleh untuk sanak saudara di kampung," kata pria asal Semarang yang bekerja sebagai IT di Jakarta itu dengan sumringah.
Untuk itu Adi harus merogoh koceknya lebih dalam. Ongkos bus yang bisanya Rp 80-95 ribu kali ini harus dibayarnya sebesar Rp 250 ribu per orang. "Ongkosnya memang lebih mahal, tapi saya juga bisa beristirahat di dalam bus," ujarnya.
Adi berangkat ke Semarang bersama teman sekosnya Awan (24) yang juga asal Blora. Mereka memilih berangkat dari Terminal Lebakbulus sore ini dengan alasan keamanan dan kenyamanan.
"Kita berangkat hari ini karena prediksi hari ini tidak akan macet dibanding hari lain," kata Awan yang sudah tidak sabar untuk pulang ke kampung halaman.
"Disini (Terminal Lebakbulus) lebih bersih dan lebih aman," tambah Adi yang membawa kardus besar, travelbag, dan ransel saat mudik kali ini.
(/iy)











































