"Anak-anak muda di desa tidak perlu ikut-ikutan untuk hijrah ke kota. Penghidupan yang baik sebenarnya juga tersedia di desa," ujar dalam pertemuan dengan mahasiswa Leiden di rumah seorang sesepuh, Mintardjo, di Korenbloemlaan 59, Sabtu (20/9/2008) lalu.
Syaratnya, kata Daryono, sebenarnya mudah saja, yakni bagaimana membuat desa menjadi tempat yang menarik bagi mereka yang menjelang dewasa tersebut. "Desa harus menyediakan lapangan pekerjaan serta menjanjikan masa depan yang cerah," tandasnya dalam pertemuan yang digelar Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) Leiden.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
“Anak-anak muda itu saya kumpulkan dan saya beri pengarahan. Mulai dari jenis tanaman apa saja yang bisa dibudidayakan, hingga bagaimana cara menjualnya,” terang Daryono.
Partisipasi para pemuda tersebut semakin menggembirakan dari waktu ke waktu. Mereka kian mandiri untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.
Daryono selanjutnya juga mengumpulkan petani-petani di lingkungannya. Dengan bendera Lembaga Pemberdayaan Masyarakat Desa (LPMD), dia mengorganisir kegiatan-kegiatan pertanian di desanya, dari penyuluhan, pembuatan pupuk organik, hingga penyusunan pola distribusi hasil sawah.
Selain itu dia juga membangun jaringan produktif. Antara lain membuka komunikasi dengan kalangan kampus, LSM, hingga konsumen produk pertaniannya. Demikian pula dengan kelompok tani dari kabupaten lainnya, seperti Salatiga dan Wonogiri.
"Tidak perlu menunggu uluran tangan pemerintah. Setiap warga desa semestinya memiliki kepedulian untuk membangun desanya," demikian Daryono, seraya mengutip slogan bali deso, mbangun deso (pulang ke desa, membangun desa).
Kerja keras dan perjuangan Daryono membangun desanya itu mendapat perhatian dari sebuah LSM di Prancis. Selain mendapat penghargaan, Daryono juga berkesempatan terbang jalan-jalan ke Eropa.
(es/es)











































