Hal itu dikemukakan Daryono, petani kecil dari Klaten, Jawa Tengah, saat melakukan pertemuan dengan mahasiswa dan tokoh masyarakat Indonesia di Leiden, Sabtu (20/9/2008) lalu. Acara itu diselenggarakan oleh Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) setempat.
Daryono berada di Eropa karena mendapat penghargaan dari LSM di Perancis atas jasa-jasanya terhadap pembangunan desanya, khususnya dalam hal kemandirian pertanian.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kebijakan yang diterapkan pemerintah belum memihak kepada petani. Penyeragaman benih, pemakaian pupuk kimia, serta penjualan hasil pertanian yang tidak menguntungkan telah menempatkan petani sebagai pihak yang tidak bisa menikmati hasil kerja kerasnya sendiri," papar Daryono.
Menurut Daryono, banyak akibat yang timbul karena persoalan tersebut, mulai dari kadar PH tanah yang menurun, hingga keengganan anak-anak muda di desa untuk menggarap sawah karena kehilangan motivasi.
"Demi kelangsungan desa, hal ini tentu tidak bisa dibiarkan begitu saja," demikian Daryono. (es/es)











































