Mereka ditemukan secara kebetulan oleh Dubes RI untuk Malaysia, Dai Bachtiar, Kamis (25/9/2008). Da'i dan rombongan ketikan itu tengah memantau situasi arus mudik WNI di Kuala Lumpur Internasional Airport (KLIA).
"Kita akan pelajari apa masalahnya sampai mereka ditelantarkan seharian di sini. Mereka pun belum makan sejak semalam. Kalau masalahnya teknis komunikasi, kita akan minta perbaiki. Tapi kalau ada agennya tidak bertanggungjawab, kita akan evaluasi bahkan sampai tingkat blacklist," ujar Da'i geram usai bincang dengan para TKW terlantar.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
dijemput, sehingga akhirnya mereka menginap di kantor imigrasi bandara.
"Saya gak tahu mau kemana. Agennya disini saja gak tahu. Nomor juga gak ada," ujar Tursinah (23), salah seorang TKW asal Cilacap.
TKW terlantar lainnya adalah Siti Hanah (23), Turiyem (29) dan Fiki (21) dari agen PT Khas Nusa Makmur. Petronila Oput (22) yang dikirim oleh PT Putra Parwitan Karya, dan Arinda Bangla Dinda dengan agennnya PT Mitra Kencana Prasetya.
Sedangkan sembilan orang lainnya yang semunya asal NTT dikirim oleh PT Maharani. Yaitu Benci Lakusana, Ida Cu, Maria Magdalena, Rosalina Daijonil, Feolina El Feto, Aleta, Norci Seko, Yuliana, dan Serli.
Sejauh ini pihak KBRI Kuala Lumpur masih berusaha menghubungi agen-agen bersangkutan yang emuanya berkantor pusat di Jakarta. Aneh sekali bila ternyata empat agen penyalur TKI itu tidak memiliki penghubung di Malaysia sehingga tidak memberikan nomor teleponnya pada 15 TKW yang mereka kirim.
(rmd/lh)











































