Sekitar 1.500 pedagang bubur kacang ijo (burjo) dan mie rebus di Yogyakarta dan sekitarnya mudik bareng ke Kabupaten Kuningan, Jawa Barat. Semua biaya ditanggung produsen mie instan.Pihak panitia mudik bareng menyediakan sekitar 25 bus pariwisata AC. Mereka berangkat bersama-sama dari Lapangan Sendangadi, Kecamatan Mlati, Sleman, Kamis (25/9/2008) pukul 11.30 WIB. Tujuan mudik para pedagang mie rebus ini adalah berbagai kota di Jawa Barat, seperti Kuningan, Cirebon, Ciawi, dan Cilimus.
Sebelum berangkat mereka juga diberikan berbagai doorprize berbagai barang elektronik seperti televisi, tape recorder, DVD/VCD player dll. Para peserta mudik juga mendapatkan kenang-kenangan dari pemrakarsa berupa sarung, baju koko, pakaian muslimah dan lain-lain.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Acara seperti ini sudah rutin tiap tahun dilakukan paguyuban pedagang mie rebus dan burjo yang ada di Yogyakarta. Kita buka lagi kalau mahasiswa sudah datang lagi dari berlebaran," kata Taslim yang biasa berjualan di dekat kampus UGM itu.
Menurut dia, sebelum puasa beberapa pedagang juga sudah ada yang pulang untuk mengirimkan uang dan berbagai keperluan saat lebaran. Jadi saat ini mereka hanya membawa bingkisan lebaran berupa baju-baju batik buatan Yogya atau Solo ataupun salak pondoh. Tidak lupa hampir semua pedagang juga membawa handphone keluaran terbaru lengkap dengan handsfree dan asesoris lainnya. "Nggak banyak yang kita bawa, semua sudah dikirimkan sebelumnya," katanya.
Selain itu menggunakan bis gratis kata dia, beberapa pedagang ada yang pulang menggunakan sepeda motor hasil jerih payah keringatnya berjualan di Yogyakarta. Beberapa pedagang nanti sore juga ada yang pulang menggunakan sepeda motor lewat jalur selatan, Purwokerto, Brebes, Cirebon dan Kuningan. "Semua motornya juga keluaran terbaru, biar bisa digunakan di kampung," katanya.
Menurut dia, saat pulang nanti para pedagang juga akan membawa beberapa orang kerabatnya untuk ikut berdagang mie rebus di Yogya setelah lebaran. Masing-masing kelompok pedagang akan membawa 2-5 orang. "Itu pasti kami lakukan. Biasanya setelah lebaran ada pedagang yang ingin berjualan sendiri atau tidak ikut juragan, sehingga perlu menambah tenaga lagi untuk berjualan 24 jam," pungkas Taslim. (bgs/djo)











































