"Jadi dioperasinya di RSCM. Kalau RSCM tidak bisa ya RS Mata Cicendo di Bandung. Tapi waktu jelasnya saya belum tahu," ujar Kepala Humas Daops I Jabotabek PT KA, Ahmad Sudjadi Kamis (25/9/2009).
Pelemparan batu ini merupakan kejadian ketiga yang menimpa masinis KA sejak 1998. Ia sangat menyayangkan pelemparan yang dilakukan masyarakat di sekitar rel. "Dari pengalaman kami, pelaku biasanya anak-anak. Tapi siapa pun pelakunya dan apa pun alasannya, mau iseng, mau apa, kalau melempari KA yang sedang melintas sangat membahayakan," kata Ahmad kepada detikcom.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Hal serupa terulang pada 2005 pada masinis Cirebon Ekspres. Masinis itu terluka berat di kepala sehingga KA yang dikemudikannya harus berhenti di tengah jalan untuk menurunkan dan melarikannya ke RS terdekat.
"Tiga kali itu baru korban khusus masinis, belum lagi yang lain-lain seperti penumpang. Tindakan ini berbahaya," tambahnya.
Menurut Ahmad, tindakan antisipasi pelemparan baru sulit dilakukan pihak KA. Ia hanya mengimbau adanya kerjasama yang baik dari masyarakat yang tinggal di sekitar rel untuk menjaga keselamatan perjalanan dan penumpang KA.
"Kan tidak mungkinlah keamanan ditaruh di kanan kiri rel. Kita imbau RT, RW, dan masyarakat yang tinggal di kanan kiri rel, apalagi yang tinggal di tanah milik KA jangan sampai melempari batu saat kereta melintas. Kalau melihat anaknya atau cucunya melempari batu jangan didiemin," imbau Ahmad.
(vna/iy)










































