Pengamat: Tak Punya Tokoh, PKB Wajar Gelar Konvensi Capres

Pengamat: Tak Punya Tokoh, PKB Wajar Gelar Konvensi Capres

- detikNews
Kamis, 25 Sep 2008 11:28 WIB
Pengamat: Tak Punya Tokoh, PKB Wajar Gelar Konvensi Capres
Jakarta - PKB setelah ditinggal Gus Dur nyaris tidak lagi memiliki tokoh yang layak menjadi calon presiden (capres) untuk Pemilu 2009. Maka sudah sewajarnya partai pimpinan Muhaimin Iskandar itu menggelar konvensi untuk menjaring capres.

"PKB relatif tidak memiliki tokoh. Apalagi sekarang ditinggal Gus Dur yang mengancam akan golput," kata Direktur Indo Barometer M. Qodari dalam perbincangan dengan detikcom, Kamis (25/9/2008).

Konvensi capres awalnya dipelopori Partai Golkar. Kini Golkar meninggalkan metode tersebut. Tapi partai lain justru ramai-ramai menggunakannya. Setelah Partai Bintang Reformasi (PBR), kini giliran PKB yang menyatakan berencana mengadakan konvensi serupa.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Menurut Qodari, konvensi capres digunakan atau tidak tergantung masing-masing partai. "Saya kira karena memang ada perbedaan situasi dan kondisi dari masing-masing partai terkait dengan kebutuhannya," kata

Qodari mencontohkan, Golkar pada Pilpres 2004 menyelenggarakan konvensi karena Golkar memiliki terlalu banyak tokoh yang pengaruhnya sama kuat. Banyaknya tokoh ini membuat Golkar kesulitan menentukan capres sehingga dicarilah metode yang dirasa paling cocok, yakni konvensi.

Selain itu, Akbar Tandjung selaku Ketum Golkar waktu itu juga sedang mengalami masalah hukum terkait kasus Buloggate sehingga dikhawatirkan tidak bisa maju menjadi capres.

Motif yang lain berada di balik konvensi capres PBR. PBR menggelar konvensi justru karena kekurangan tokoh sehingga merasa perlu menjaring tokoh dari luar. Selain itu, konvensi juga digunakannya untuk menaikkan popularitas dan mengangkat nama partai.

"Saya kira fokus PBR dan Golkar berbeda. Kalau PBR fokusnya agar bisa lolos parliamentary threshold, sedangkan Golkar fokusnya adalah untuk memenangkan pilpres," ujar Qodari.

Karena fokus yang beda inilah, menurut Qodari, yang membuat Golkar tidak lagi menerapkan metode konvensi. Sebab bagi Golkar konvensi justru akan menjadi bumerang dalam rangka memenangkan Pilpres.

"Kalau tujuannya memenangkan Pilpres, konvensi justru jadi bumerang. Kebutuhan internal partai lain dengan kebutuhan publik. Di partai mungkin ada mekanisme tersendiri sehingga pemenang konvensi belum tentu cocok untuk menjadi calon presiden," lanjut Qodari.

Namun sistem konvensi ini memiliki keuntungan tersendiri bagi partai. Partai yang menyelenggarakan konvensi capres akan mengalami dinamika internal dengan hadirnya orang-orang baru yang berbuat untuk partai sehingga akan menggerakkan mesin partai. Popularitas partai juga akan semakin meningkat. (sho/iy)


Berita Terkait