Untuk kesekian kali, Rizal membantah pertemuan yang dilakukannya itu untuk mencari perlindungan terkait kasus demonstrasi anarkis yang menjadikan Sekjen KBI Ferry Yuliantono sebagai tersangka. Nama Rizal bahkan sempat dikabarkan menjadi tersangka, sebelum kemudian disangkal oleh Mabes Polri.
"Sejarah perjuangan saya sejak 30 tahun lalu tidak pernah takut terhadap semua sikap otoriter," tegas Rizal usai Dialog Kenegaraan di Gedung DPD, Komplek Parlemen, Senayan, Jakarta, Rabu (24/9/2008).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Saya tidak pernah takut, kecuali sama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Soeharto saja saya lawan kok, apa lagi ini," ungkap Rizal tanpa menjelaskan 'ini' yang dimaksud.
Lebih jauh Rizal menjelaskan, pertemuannya dengan Amien Rais, Gus Dur, Taufiq Kiemas dan Adnan Buyung Nasution hanya untuk membicarakan perkembangan demokrasi di Indonesia.
"Ada upaya pemerintah saat ini, seperti kata Pak Amien, untuk mereduksi demokrasi, seolah-olah demokrasi kita hanya demokrasi perwakilan," papar eks Menko Perekonomian ini.
Dalam kesempatan itu, Rizal juga menegaskan pentingnya demokrasi langsung lewat pernyataan sikap dan demonstrasi, di samping demokrasi perwakilan lewat legislatif.
"Di Indonesia ini demokrasi perwakilan kan cuma transaksi doang, bukan memperjuangkan kepentingan rakyat," pungkasnya. (lrn/nrl)











































