Para investigator Pakistan yakin, penyerang merakit bom dahsyat seberat 600 kilogram tersebut di sebuah tempat persembunyian di Islamabad. Sebab semua truk yang masuk ke ibukota Pakistan itu akan diperiksa di pos-pos pemeriksaan.
"Fokus kami pada saat ini adalah menelusuri jaringan di Islamabad yang pastinya telah memfasilitasi gerakan dan konstruksi bom tersebut," kata seorang pejabat senior Pakistan yang terlibat dalam investigasi seperti dikutip AFP, Senin (22/9/2008).
"Mengangkut 600 kilo bahan peledak dalam jarak yang jauh dan melalui titik-titik pemeriksaan adalah mustahil. Jadi dugaan kami sekarang adalah bom tersebut dinaikkan (ke truk) di Islamabad," tutur pejabat tersebut.
Namun mungkin juga, bahan peledak tersebut diselundupkan ke Islamabad dalam bagian-bagian kecil dari markas militan di wilayah kesukuan berbatasan dengan Afghanistan.
Pejabat senior keamanan Pakistan lainnya mengatakan, bahan peledak yang digunakan dalam peledakan di Marriott mirip dengan bom yang dipakai dalam dua serangan bom sebelumnya. Termasuk dalam pengeboman kedutaan Denmark di Islamabad pada Juni lalu.
"Kami sedang mengumpulkan bukti-bukti. Bahan peledak itu mirip dengan yang digunakan di kedutaan Denmark, yang diklaim oleh al Qaeda. Juga serangan di kamp ISI (Inter-Services Intelligence) di Rawalpindi tahun lalu," kata pejabat yang minta dirahasiakan identitasnya.
Salah seorang figur al Qaeda, Mustafa Abu al-Yazid saat itu mencetuskan, serangan bom di kedutaan Denmark merupakan "pembalasan" untuk surat kabar Denmark yang mempublikasikan kartun kontroversial Nabi Mohammad. Enam orang tewas dalam insiden peledakan itu.
Adapun pengeboman di dekat fasilitas ISI di Rawalpindi menewaskan 15 orang. Tak ada pihak yang mengklaim bertanggung jawab atas serangan itu. (ita/iy)











































