Mereka tampak mondar-mandir sambil membawa tas yang berisi uang ribuan, lima ribuan hingga sepuluh ribuan. "Ada tiga macam, seribu, lima ribu dan sepuluh ribu," ujar Ita Sianipar.
Perempuan 30 tahun warga Medan itu bercerita kepada detikcom di kompleks Terminal Lebak Bulus, Jakarta, Sabtu (20/9/2008).
Warga Pondok Cabe itu mengaku, dengan menjual uang pecahan tersebut, rata-rata perhari dia bisa mengantongi untung tidak kurang dari seratus ribu rupiah. " Kalau laku sejuta cuma untung Rp 30 ribu. Jadi kalau saya laku empat juta rata-rata perhari ya kalikan saja sendiri," kata Ita.
Uang pecahan tersebut, didapatkan Ika dari seorang bandar yang menurutnya kenal dekat dengan orang Bank Indonesia (BI). "Ada bandarnya sendiri. Dia punya kenalan orang BI. Duitnya dari sana semua. Makanya duitnya baru semua nih," ujar Ita sambil menunjukkan segepok uang baru lima ribuan.
Ita yang mengaku menjual uang pecahan tersebut mulai dari pukul 10.00 WIB hingga 18.00 WIB tidak merasa takut uang yang dijajakannya dirampok orang. Ia berujar, bandarnya sudah berkoordinasi dengan polisi.
Penjual lain, Raeki (24) yang juga dari Medan mengaku hari ini dagangan uangnya belum laku. Padahal, per Rp 100 ribu dijualnya dengan Rp 107 ribu. Harga ini lebih murah dibanding teman-temannya yang menjual dengan harga Rp 110 ribu per Rp 100 ribu.
"Kemarin laku Rp 2 juta. Sekarang belum laku sama sekali," ujarnya kesal. (anw/ken)











































