Dari jumlah itu, sebanyak 24 anak dirawat di Puskesmas Borobudur, 21 korban dirawat di Puskesmas Kota Mungkid, 1 orang di Puskesmas Salaman dan 3 oang di RSUD Muntilan. Selain anak-anak, pengelola harian PA dan Ponpes itu yakni Suparlan (40) dan isterinya, Santi (29), serta Ustad Hanif dan isterinya, Wiwik juga mengalami keracunan.
Mereka keracunan makanan basi berupa telur ceplok mata sapi dan sayuran kuah santan. Makanan itu merupakan sumbangan warga sekitar panti yang diberikan pada hari Kamis 18 September untuk menu buka puasa. Karena ada acara buka bersama, lauk telur ceplok beserta sayuran itu kemudian disimpan. Keesokan harinya saat makan sahur pada hari Jumat 19 September, lauk pauk dimakan bersama-sama. Sebelumnya lauk pauk telah dipanaskan oleh pengurus panti.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Gejala keracunan mulai terlihat pada hari Jumat sore ditandai sejumlah anak merasa panas badan, muntah, dan diare. Pihak pengelola kemudian meminta bantuan petugas medis dari Puskesmas setempat untuk melakukan perawatan di PA dan Ponpes tersebut. Namun karena jumlah anak yang mengalami gejala serupa semakin bertambah, sehingga mereka dibawa ke sejumlah puskemas terdekat.
"Penyebab pastinya masih dalam penelitian, tetapi kalau melihat jarak waktu makan hingga gejala sakitnya kemungkinan karena menu makanan yang sudah basi, karena masa inkubasi bakterinya. Sampel air, sisa makanan dan bekas muntah akan kita periksa," kata dia.
Menurut dia, dua anak yang kondisinya kritis akibat dehidrasi dirawat di RSUD Muntilan. Seluruh biaya perawatan korban ditanggung oleh Pemkab Magelang. "Biaya perawatan gratis, karena ini sudah KLB (Kejadian Luar Biasa)," katanya.
(bgs/asy)










































