PG Gorontalo Bantah akan Lengserkan Fadel Lewat Musdalub

PG Gorontalo Bantah akan Lengserkan Fadel Lewat Musdalub

- detikNews
Jumat, 19 Sep 2008 18:06 WIB
PG Gorontalo Bantah akan Lengserkan Fadel Lewat Musdalub
Jakarta - DPD Partai Golkar se-Gorontalo dikabarkan akan menggelar Musyawarah Daerah Luar Biasa (Musdalub) untuk melengserkan Fadel Muhammad dari kursi Ketua DPD Tingkat I Gorontalo. Namun rencana itu malah dibantah oleh Ketua DPD Tingkat II Partai Golkar Gorontalo Thomas Mopili.

"DPD Tingkat II Partai Golkar se-Gorontalo tidak menghendaki adanya Musdalub untuk melengserkan Fadel Muhammad," kata Thomas Mopili dalam jumpa pers usai bertemu Wapres Jusuf Kalla di Hotel Acacia, Jl Kramat Raya, Jakarta, Jumat (19/9/2008).

Sebab, lanjut Thomas, hingga kini memang tidak ada satupun
manuver-manuver politik yang dilakukan Ketua DPD Tingkat I PG Gorontalo Fadel Muhammad. Bahkan, selama ini tidak ada indikasi Fadel Muhammad melakukan upaya memecahbelah PG di Gorontalo.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Selama ini kita, di Gorontalo akur-akur saja. Tidak ada upaya manuver apapun termasuk memecahbelah PG," jelasnya.

Namun menurut Thomas, bila memang ada indikasi ke arah itu, maka DPD Tingkat II PG se-Gorontalo baru akan menggelar Musdalub. Dia juga mengaku datang ke Jakarta untuk bertemu dengan Wapres Jusuf Kalla guna mempertanyakan mekanisme pencoretan Fadel Muhammad dari pencalegan.

"Kemarin kita ketemu Pak Jusuf Kalla. Beliau mengatakan kalau memang Fadel Muhammad ingin maju tidak ada masalah dengan syarat harus memenuhi prosedur," ungkapnya yang juga menjabat Ketua DPRD Gorontalo Utara ini.

Tudingan manuver politik berhembus saat nama Fadel Muhammad dicoret dari daftar caleg Partai Golkar. Bahkan, Fadel
ditenggarai akan melakukan pertemuan pada tanggal 8 Oktober di Gorontalo guna mengagendakan desakan dilakukan konvensi dengan mengundang Akbar Tandjung, Yuddy Chrisnandi dan Sri Sultan Hamengku Buwono X.

Fadel sendiri membantah soal itu, hanya saja pada tanggal yang sama ada acara pemberian gelar adat Pulanga kepada Sri Sultan Hamengku Buwono X. Pemberian gelar adat sendiri sudah dibicarakan dengan tokoh adat setempat. (zal/ken)


Berita Terkait