Senjata Serbu Bripda Supriyanto Meletus Bukan Karena Jatuh

Salah Tembak di LP Bojonegoro

Senjata Serbu Bripda Supriyanto Meletus Bukan Karena Jatuh

- detikNews
Jumat, 19 Sep 2008 13:24 WIB
Senjata Serbu Bripda Supriyanto Meletus Bukan Karena Jatuh
Bojonegoro - Peluru yang menewaskan Sri Wahyuni (6) dan melukai dua orang lainnya itu berasal dari senjata organik jenis SS-V6 milik Bripda Supriyanto. Peristiwa itu terjadi ketika pemilik mencoba menembakkan senjatanya setelah magazine dilepas, Kamis (18/9/2008).

Tapi tak disangka, sebuah peluru masih tersisa di dalam senapan serbu tersebut. Uji coba senjata ini merupakan prosedur tiap petugas yang memegang senjata sebelum mulai menjalankan tugasnya. Tahap pertama pengecekan adalah melepas magazine yang bertujuan agar tidak ada peluru yang melesat keluar.

Setelah melepas magazine, senjata dicek kamar pelurunya dengan cara menggoyang bagian bawah senjata atau mirip saat mengokang senjata. Tahap ini memastikan kamar senjata dalam keadaan tanpa peluru.

"Kemudian senjata ditembakkan ke arah atas diikuti dengan pandangan mata lurus dengan ujung senjata. Nah kesalahannya terletak di tahap ini," kata Kabag Bina Mitra Polres Bojonegoro, Kompol Kusen Hidayat saat ditemui detiksurabaya.com di Mapolres Bojonegoro, Jalan MH Thamrin, Jumat (19/9/2008).

Kusen menjelaskan, pemegang senjata standar Polri itu adalah Bripda Supriyanto. Ia melakukan kesalahan saat mencoba menembakkan senjata yang seharusnya ke arah atas melainkan ia malah menembakkan ke arah sejajar dengan dirinya.

Dalam pemeriksaan, Supriyanto berdalih bahwa ia menembakkan ke arah yang sejajar karena melihat di sampingnya hanya sebuah pintu dengan ketebalan sekitar 30 cm. Selain itu senjata di tangannya diyakini tanpa peluru karena telah melewati dua tes pertama. Namun ternyata masih ada satu peluru di dalam senjata.

"Ia mengira aman ketika ditembakkan ke pintu, ternyata perkiraannya salah dan mengenai orang lain," tambahnya. Pintu kayu Lapas Bojonegoro yang bagian dalamnya kosong itupun dengan mudah ditembus peluru yang ditembakan dari jarak dekat.

Timah panas itu pun melesak ke luar yang kebetulan di balik pintu terdapat ketiga korban. "Jadi senjatanya tidak jatuh terus meletus," tegasnya.

Kusen juga menjelaskan bahwa peluru senjata yang digunakan menggunakan peluru tajam kaliber 5,6 mm. Peluru tajam memang digunakan karena untuk berjaga-jaga dari ancaman. "Tidak pakai peluru karet. Ini memang sudah prosedur," tegasnya. Bripda Supriyanto saat kejadian sedang bertugas jaga di Lapas Bojonegoro.

Dua korban peluru ini adalah ibu dan anaknya, Supatmi dan Sri Wahyuni yang menjenguk suaminya, Suli. Sedang satu orang lagi, adalah Azis Sulaiman, seorang napi yang menjadi juru parkir. Berita selengkapnya mengenai kasus salah sasaran tembak bisa dibaca di: detiksurabaya. (gik/asy)


Berita Terkait