"Pak,di mana ada massa berkumpul, pasti ada korban. Saya tidak berdoa jelek, korban pingsan pasti ada," kata pria warga RT III RW IV Kelurahan Purutrejo, Kecamatan Purworejo, Kota Pasuruan.
H Syaikon sendiri mengakui jika pembagian zakat itu diberikan sendiri dibantu isteri dan dua anaknya bernama Fivin dan Farouk. Selain itu, pembagian zakat yang menewaskan 21 orang dan belasan terluka itu dibantu dengan 13 santri.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Memang kita fokuskan pada ibu-ibu dan kaum wanita. Sebab mereka yang ada di dapur dan mengatur keuangan keluarga. Kalau diberikan ke bapak-bapak, meski diberikan ke isterinya pasti dibelikan kopi dulu di warung," tambahnya.
Sementara dari pantauan detiksurabaya.com, H Syaikon saat diperiksa mengenakan baju taqwa dengan menggunakan peci. Sedangkan puluhan wartawan cetak dan elektronik terlihat berada di luar ruangan Kasat Reskrim Polresta Pasuruan.
Karena tidak bisa masuk, wartawan hanya bisa mengintip dari balik jendela dan mendengarkan pemeriksaan dari sela-sela kaca nako.
Seperti diberitakan pembagian zakat di rumah H Syaikon pada Senin (15/9/2008) berakhir ricuh. Ribuan orang yang berebut zakat senilai Rp 10 ribu-Rp 40 ribu saling berdesakan dan terjatuh. Mereka terinjak-injak dan 21 wanita tewas. Belasan orang lainnya dilarikan ke rumah sakit karena terluka. Berita mengenai kelanjutan insiden zakat dari Pasuruan, bisa dibaca di: detiksurabaya.
(fat/gik)











































