"Minyak itu awalnya hanya rembesan kecil dari pori-pori tanah pasir," kata Manajer Keselamatan Kerja dan Lingkungan Hidup PT LHI Medan Rantetan ketika ditemui detikcom, Sabtu (13/9/2008).
Minyak mentah tersebut jumlahnya tidak sedikit. Setelah ditampung di drum, lanjut Medan, memenuhi 4 drum dengan daya tampung masing-masing 220 liter sejak minyak itu muncul 21 Agustus 2008 lalu.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurutnya, PT LHI menilai kejadian tersebut wajar mengingat areal tambang batu bara milik LHI berada di atas lahan area konsesi minyak dan gas. Dimana untuk gas dikelola PT Semco sedangkan minyak oleh PT VICO INDONESIE.
"Keluarnya minyak ini tidak akan mungkin sama yang terjadi di Lapindo Brantas," tambahnya.
Medan juga menjelaskan, PT LHI yang bergerak di penambangan batu bara memiliki lahan konsesi 21.270 Hektar dengan izin PKP2B Tahun 1999, yang berada di wilayah Kota Samarinda dan Kabupaten Kutai Kartanegara, Kaltim.
"Kita kantongi Amdal dari Bapedalda Kaltim, Samarinda dan Kutai Kartanegara," pungkas Medan.
Dipercaya sembuhkan penyakit
Munculnya minyak mentah tidak disia-siakan begitu saja. Warga Desa Tanah Datar, Kecamatan Muara Badak, Kabupaten Kukar, yang berada di sekitar lokasi munculnya minyak bumi memanfaatkan momen tersebut dengan menjualnya Rp 50 ribu per 600 mililiter.
"Dipercaya mampu menyembuhkan penyakit kulit manusia," kata salah seorang
warga. (gah/gah)