Auschwitz, Monumen Perang Dunia II

Laporan dari Polandia

Auschwitz, Monumen Perang Dunia II

- detikNews
Selasa, 09 Sep 2008 16:40 WIB
Auschwitz, Monumen Perang Dunia II
Krakow - Perang dunia kedua tidak bisa dilepaskan dari keterlibatan Nazi, partai yang cukup besar di Jerman saat itu yang dipimpin oleh Adolf Hitler. Dengan kekuasaannya, Adolf Hitler sebagi Fuhrer berhasil mengekspansi Jerman dengan menundukkan negara negara Eropa tetangganya bahkan hingga sebagian Afrika.

Salah satu negara yang paling menderita akibat ekspansi Nazi adalah Polandia. Polandia menjadi negara pertama yang jatuh dalam pendudukan Nazi Jerman pada tahun 1939. Di Polandia pula, tepatnya di Auschwitz, dua buah kamp yang cukup besar dan luas dibangun oleh pejabat militer Nazi untuk mengkonsentrasikan massa untuk dijadikan buruh kasar.

Jika Anda pernah mendengar gas chamber, maka ruangan yang difungsikan untuk membantai massal para korban Nazi ini ternyata juga terletak Auschwitz, Polandia. Beberapa waktu yang lalu, saya mendapatkan kesempatan untuk berkunjung ke kamp konsentrasi Nazi tersebut yang kini diabadikan menjadi sebuah museum.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Saat saya tiba di sana, saya menyaksikan kompleks bangunan tua yang cukup luas. Ada sekitar 30 hingga 40 blok gedung dalam area tersebut. Umumnya bangunan-bangunan tersebut hanya berupa ruangan tanpa kamar. Di dalam setiap kamar dipampang foto-foto dokumentasi para korban Nazi yang ditahan di dalam kamp.

Ratusan pas foto inilah yang membawa perasaan saya sebagai manusia menjadi teriris. Orang-orang di dalam foto tersebut hampir bisa dipastikan tewas di dalam gas chamber yang ada di kamp konsentrasi.

Kamp tersebut dulunya adalah sebuah kantor polisi Polandia yang kemudian diambil alih oleh Nazi sejak Polandia resmi jatuh ketangan Jerman. Awalnya, kamp digunakan untuk menampung para tahanan politik Polandia. Namun dalam perkembangannya, kamp dibangun semakin besar menyerupai sebuah perkampungan dan diperuntukkan untuk menahan kalangan non keturunan Jerman, seperti Yahudi dan Gipsi.

Tak hanya mereka, masyarakat Polandia atau Jerman yang berbuat tindak kriminal atau dianggap subversif akhirnya juga dijebloskan ke kamp. Hingga akhirnya, kamp menjadi penuh dan tidak mampu menampung tahanan lagi. Menyadari hal tersebut, Nazi akhirnya membangun sebuah kamp konsentrasi yang lebih besar di daerah Birkenau, Auschwitz.

Kamp Birkenau berjarak kurang lebih 4 km dari kamp pertama. Benar saja, saat saya berada di sana, saya menemui sebuah areal tanah maha luas di mana di atasnya ratusan barak kayu dibangun. Di kamp inilah 4 buah gas chamber dan ratusan unit krematoria juga didirikan.

Hati saya semakin tersentuh saat saya menyadari saya berada di areal eksekusi massal korban Nazi. Betapa tidak, membayangkan hampir setiap harinya, Nazi melakukan kejahatan kemanusiaan dengan menjebloskan puluhan ribu orang yang dianggap sudah tak bisa bekerja atau disebut'non essential' ke dalam gas chamber untuk dimusnahkan.

Tercatat, dari tahun 1940 hingga 1945, Nazi menangkapi semua orang yang menurut mereka tidak berguna atau mengancam eksistensi Nazi, dari seluruh penjuru Eropa untuk dibawa ke kamp konsentrasi Birkenau. Tak heran, bila kamp konsentrasi di Auschwitz ini juga dikenal dengan 'The Death Factory', atau pabrik kematian.

Menurut Kaszcha, tour guide yang mendampingi perjalanan saya, julukan Theย  Death Factory hampir sepenuhnya benar, karena proses pembantaian massal yang dilakukan di Kamp Bikenau, Auschwitz, dibuat seefisien dan seefektif mungkin layaknya rantai produksi di pabrik pabrik.

"Sebelum mereka dijebloskan ke gas chamber, Nazi memotong rambut para tahanan. Tumpukan rambut dari para calon penghuni gas chamber nantinya dijual, atau digunakan untuk membuat karpet atau barang kebutuhan lain," kisah Kaszcha.

Kebengisan Nazi tak berhenti di situ. Masih menurut Kaszcha, jenazah tahanan kamp dikremasi untuk kemudian abunya diolah menjadi pupuk untuk tujuan komersil. Sejarah mencatat bahwa 'produk The Death factory' mampu membantu perekonomian Jerman yang saat itu carut marut karena perang. Di dalam kamp seluas kurang lebih 175 hektar ini juga dibangun unit pemeriksaan kesehatan dan abnormalitas.

Adalah Josef Mengele, seorang dokter yang ditunjuk oleh SS Nazi untuk menyelenggarakan pemeriksaan kesehatan bagi tahahan. Meski seorang dokter, perilaku Mengele bukanlah seperti seseorang yang seharusnya memberikan pertolongan terhadap sesama. Mengele sangat terkenal akan kekejamannya terhadap para pasiennya di kamp konsentrasi.

"Dokter Mengele berhak menentukan tahanan mana yang masuk ke gas chamber dan mana yang masih sehat untuk dipekerjakan," jelas Kashzca.

Ketertarikan Mengele terhadap fenomena herediter seperti kembar siam dan kekerdilan juga mendorong Mengele menggunakan para tahanan sebagai bahan riset dan eksperimen kedokteran. Dus, Dokter Josef Mengele dijuluki 'The Angel of Death', atau malaikat kematian.

Kembali ke museum, banyak sekali barang-barang peninggalan para tahanan yang dipasang di dalam kaca display. Setiap display menjelaskan barang apa saja yang digunakan atau dibawa oleh para tahanan sebelum akhirnya digas dalam gas chamber.

Gas chamber sendiri sebenarnya telah dihancurkan oleh tentara Nazi sesaat sebelum pasukan Soviet berhasil membebaskan Polandia dari Jerman pada April 1945. Namun untuk memberi gambaran yang jelas bagaimana rupa dari gas chamber, akhirnya pihak museum membangunnya kembali seperti aslinya.

Kendati demikian, sisa-sisa reruntuhan gas chamber yang asli masih bisa dilihat, tampak rata dengan tanah. Selama 6 tahun Nazi menguasai Polandia dan negara negara Eropa lainnya, 5 juta orang mati dalam aksi genosida yang dilakukan Nazi. Museum kamp konsentrasi di Auschwitz seakan menjadi monumen pengingat betapa kekejaman manusia terhadap manusia lainnya begitu gamblang.

Tampak sebuah kata kataย  terpampang didalam salah satu ruangan museum;" Perang, sejatinya telah membinasakan peradaban manusia itu sendiri. Hanya manusialah yang saling membunuh rasnya sendiri".

Walau demikian, manusia tak pernah belajar dari kekejaman perang yang pernah terjadi. Monumen Auschwitz rasanya tak mampu mengetuk hati manusia untuk menciptakan perdamaian dimuka bumi. Buktinya, dunia hingga kini tak pernah lepas dari perang antar sesama manusia.

(sal/nrl)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads