"Bisa saja terjadi. Itu konsekuensi dari sistem suara terbanyak, " tutur M Qodari, pengamat politik dari Indo Barometer ketika berbincang dengan detikcom, Selasa (9/09/2008).
Menurut Qodari, tersingkir atau tidaknya para elit ini, juga ditentukan oleh karakteristik mereka. "Tergantung tokoh macam apa mereka, apakah tokoh "akar jenggot" atau tokoh "akar rumput," sebut Qodari.
Tokoh akar jenggot menurut Qodari adalah tokoh yang bergantung pada mesin politik partai saja. Kurang bekerja dan jarang turun di lapangan. Sementara tokoh akar rumput adalah tokoh yang sering ke lapangan. Dia mengakar dan punya popularitas hingga ke bawah.
Nah sekarang, para elit di Golkar masuk di kategori mana? "Saya kira di Partai Golkar masih didominasi tokoh akar jenggot. Mereka lebih senang berlindung di bawah rindang beringin," kata Qodari.
Lantaran hal ini, Partai Golkar mengubah sistem perolehan kursi berdasarkan suara terbanyak supaya mesin partai benar-benar begerak serentak. "Pucuk pimpinan di Golkar sadar itu. Makanya sistem perolehan kursi didasarkan suara terbanyak," kata Qodari.
(gun/nrl)











































