"Politik uang ini yang harus dieliminir nantinya," kata Yuddy di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Selasa (9/9/2008).
Dikatakan dia, konvensi di era Akbar Tandjung masih jauh dari sempurna dan sarat politik uang. Meski sulit dibuktikan hampir semua kandidat melakukan politik uang.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Lalu buat aturan kepada pengurus DPP yang ikut konvensi harus non aktif sehingga tidak punya pengaruh pada organisasi," ujarnya.
Yuddy mengatakan, wacana konvensi ini telah menguat di daerah-daerah. Bahkan di DPP Partai Golkar, ada sekitar 7 pengurus yang mendukung konvensi.
Konvensi Cuma Nama
Dalam kesempatan terpisah, Ketua DPP Partai Golkar Andi Mattalatta meminta semua pihak agar tidak terikat dengan istilah konvensi.
Menurut dia, konvensi itu merupakan salah satu mekanisme penjaringan capres dengan 2 pendekatan yakni terbuka dan demokratis. Konvensi terbuka artinya dapat diikuti semua orang yang bukan dari partai lain asalkan setuju dengan anggaran dasar Partai Golkar.
"Cuma namanya boleh konvensi, rapim, terserah," kata Mattalatta.
Tetapi dalam rapim tidak ada debat? "Siapa bilang dalam rapim tidak ada debat. konvensi, bukan konvensi, cuma nama. Yang penting dilakukan secara demokratis. Namanya terserah Golkar boleh konvensi, boleh rapim," sahut pria yang juga menjabat Menkum dan HAM ini. (lrn/aan)











































