"Dulu pemerintah pernah melarang (penanaman padi lokal) karena bisa menimbulkan ledakan serangan hama," kata pakar pertanian Universitas Gadjah Mada (UGM), Dr Ir Djoko Prajitno, MSc di Kantor Pusat UGM di Bulaksumur Yogyakarta, Selasa (9/9/2008).
"Karena Super Toy merupakan hasil persilangan antara Rojolele dengan Pandanwangi, kemungkinan akan adanya out brake hama besar sekali. Sebab tersedianya pakan untuk hama secara terus menerus dalam waktu lama," kata Djoko didampingi pakar pemuliaan tanaman pertanian, Ir Supriyanta, MP.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Karena itu, kami menyarankan dilakukan uji ketahanan atau resistensi terhadap hama serta uji multi lokasi karena tipe semacam ini biasanya kurang tahan terhadap serangan hama," ungkap dia.
Djoko juga menegaskan, sistem ratooning atau memangkas setelah panen kemudian dibiarkan tumbuh lagi tidak dianjurkan di lahan pertanian di Jawa. Ratooning hanya dianjurkan pada daerah rawa atau sering kebanjiran. Sebab tidak bisa dibajak dan ditanami jenis kedelai atau jagung.
"Sistem ratooning hanya bisa di daerah berpenduduk sedikit. Tapi kalau daerah berpenduduk dengan tenaga kerja cukup seperti Jawa tidak dianjurkan. Berbahaya bisa menimbulkan out brake hama," pungkas dia.
Hasilkan 3-4 Ton per Hektar
Dalam kesempatan itu Djoko juga mengatakan Super Toy dapat dikatakan tipe padi lokal Jawa dengan ciri fisik jumlah anakan sedikit, malai panjang dan isinya banyak. Padi jenis ini hanya mampu menghasilkan produksi 3-4 ton per hektar sebab galurnya tidak tegak sehingga proses fotosintesanya tidak bisa penuh.
"Hal itu berbeda dengan padi tipe Jepang dan Indica yang punya galur tegak sehingga proses fotosintesanya bisa penuh," kata dosen Fakultas Pertanian itu.
Dia meragukan bila Super Toy bisa meningkatkan produksi yang berlipat. Sebab Super Toy punya kesamaan dengan padi lokal jenis Rojolele. Dengan demikian kemungkinan hasil panen pada masa singgang atau kedua juga akan menurun.
(bgs/djo)










































