"Itu pelintiran mereka saja (KJRI). Mereka (TKW) yang hadir itu punya undangan. Sembilan orang itu bukan penyusup. Mereka datang membawa kekecewaan dan ingin mengadu," kata Franky pada detikcom, Senin (8/9/2008).
Sebelumnya, Jubir Deplu Teuku Faizasyah mengatakan bahwa kejadian itu akibat dari terbatasnya undangan. Petugas KJRI mengamankan enam TKW yang terdiri dari empat penyusup dan dua undangan yang ikut menggelar spanduk.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Akibat peristiwa ini, sembilan TKW yang bekerja di Hong Kong tercatat mengalami kekerasan. Berdasarkan keterangan Franky, mereka adalah Sri Mintarti (Sekjen Indonesian Migrant Workers Union/IMWU), Santi Yustiani, Antik Pristiwahyudi, Sahlan, Toiman Maryani, Luluh Respati, GanesPrakasiwi, Anggita Rizki, Emiati.
"Tiga orang yang divisum di RS yaitu Ganes, Luluh, dan Santi sudah kembali pulang. Mereka terkena luka cakar sampai berdarah, sisanya memar-memar. Tapi semua TKI itu sudah kembali bekerja," terang duta migran yang dilantik Serikat Buruh Migran Indonesia (SBMI) dan International Labour Organization (ILO) pada 13 Juli 2006 ini.
Franky yang dikenal sebagai penyanyi asal Surabaya ini belum mendengar adanya tindak lanjut KJRI terhadap kasus ini, begitu juga dengan rencana pemberian sanksi pada petugas yang diduga melakukan tindak kekerasan. "Belum ada sanksi yang saya dengar. KJRI hanya membantah, bagaimana mau memberi sanksi pada petugas?" katanya.
"Kami menolak keras kekerasan dan pelakunya harus diberikan sanksi yang sepadan," desaknya.
(vna/nrl)










































