"Jadi mudik dengan sepeda motor tidak hanya fenomena teknik, tapi juga sosial kultural," kata Ketua Umum Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI) Bambang Susantono dalam jumpa pers di kantornya di Gedung Ranuza, Jl Timor, Menteng, Jakarta, Jumat (5/9/2008).
Menurut Bambang, sepeda motor memang tidak didesain untuk berpergian jarak panjang. Malah, bila digunakan untuk jarak tempuh yang panjang akan mengurangi keamanan berkendaraan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Fenomena sepeda motor pada musim mudik lebaran unik dan hanya ada di Indonesia, bagaimana semua ingin senang dan dilihat sukses," jelasnya.
Seharusnya, lanjut Bambang, pemerintah perlu menyadari fenomena tersebut karena kebutuhan mobilisasi lokal. Alasannya, pemerintah belum mampu menggantikan dengan angkutan umum yang memadai.
"Untuk itu pemerintah harus mengupayakan mengurangi jarak perjalanan antar daerah yang menggunakan sepeda motor," ungkapnya.
Sayangnya, pemerintah belum mengembangkan maupun mengakomodasi inovasi dan terobosan baru yang diusulkan masyarakat. Salah satu alternatifnya mengembangkan angkutan Kereta Api kombinasi atau bus kombinasi.
Sistem ini menggabungkan gerbong KA untuk penumpang dan barang untuk mengangkut motor.
"Dengan begitu kebutuhan perjalanan jarak jauh sedapat mungkin dilakukan oleh angkutan umum, tanpa mengurangi kemampuan pemudik untuk berkunjung ke sanak keluarga selama lebaran," ujar Bambang.
MTI, ditambahkan Bambang, tidak sepakat dengan pernyataan pemerintah tentang pertumbuhan pemudik dengan sepeda motor 18,09 persen. MTI mencatat, untuk tahun 2006-2007 saja pertumbuhannya sebesar 16-31 persen.
"Sehingga diperkirakan pada tahun ini pertumbuhannya pemudik pakai sepeda motor antara 25-30 persen," ucapnya.
Oleh sebab itu, peningkatan ini akan membawa implikasi serius dalam penanganan manajemen lalulintas dan keselamatan pemudik.
(zal/mok)










































