Menyusul serangkaian serangan terhadap polisi Agustus lalu yang menewaskan 20 petugas dan polisi ketika Olimpiade tengah berlangsung, pihak berwenang kian waspada. Bersamaan dengan dimulainya bulan puasa, pemerintah setempat mengeluarkan perintah untuk meningkatkan keamanan di kawasan dan menghentikan segala upaya etnis Muslim Uighur untuk menimbulkan kekacauan.
"Menghadapi kekerasan dan aksi-aksi gangguan oleh ekstremis agama, kaum separatis, dan teroris, kami harus 'memperbanyak' pendidikan ideologis para pemimpin agama dan penduduk," demikian bunyi sebuah pemberitahuan di situs resmi kota Zhaosu di Provinsi Xinjiang seperti dilansir AFP, Jumat (5/8/2008).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kami harus memperingatkan dan menghentikan para penganut (Muslim) agar tidak menyelenggarakan dan merencanakan sembahyang berjamaah dan perkumpulan massa berskala besar lain yang dapat mengancam stabilitas sosial," bunyi pemberitahuan dari pemerintah kota Xinhe.
Di kota Shaya, patroli di sekitar masjid ditingkatkan dan petugas diperintahkan tetap waspada setiap saat untuk mengantisipasi hal-hal yang dapat menimbulkan instabilitas. "Dilarang menyebarkan 'propaganda-propaganda relijius' di tempat-tempat umum," demikian perintah otoritas berwenang kota. "Kami melarang segala bentuk pemutaran kaset audio visual, pengumuman lewat pengeras suara, dan ritual perkusi relijius yang dapat mengganggu festival Ramadan."
Xinjiang merupakan wilayah padang pasir luas yang berbatasan langsung dengan Asia Tengah dan menjadi rumah bagi sedikitnya 8,3 juta warga etnis Uighur yang selama bertahun tahun menderita akibat represi politik dan keagamaan di bawah kekuasaan pemerintah Cina. Etnis Uighur sempat mendirikan Republik Turkestan Timur pada tahun 1930-an dan 1940-an ketika kekuasaan sentral Cina sedang melemah akibat perang sipil dan invasi Jepang.
(nrl/nrl)










































