Hal itu disampaikan oleh public diplomacy officer Kedutaan Besar AS untuk Indonesia, Tristram Perry, di Kedubes AS di Jl. Medan Merdeka Selatan 4, Jakarta, Jumat (5/9/2008).
Perry mengajak masyarakat kedua negara untuk sama-sama belajar mengenai demokrasi. Menurutnya, demokrasi merupakan sebuah proses yang tidak akan ada habisnya. Perbedaan antara AS dan Indonesia menurut Perry terletak pada waktu memulai demokrasi.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kedubes AS mengadakan diskusi terbatas yang menghadirkan sejumlah wartawan dari media massa di Indonesia.
Dalam diskusi yang berlangsung singkat tersebut, Perry mengajak masyarakat Indonesia untuk menyimak secara jeli isu-isu kampanye masing-masing calon presiden. Terdapat beberapa isu yang menurutnya relevan dalam konteks Indonesia.
"Korupsi, perdagangan luar negeri, dan kebijakan energi juga relevan dengan kondisi Indonesia saat ini," ujarnya.
Sebagaimana diketahui, McCain dalam pidatonya menegaskan akan turut memberantas korupsi, terlepas dari asal partai sang koruptor. Isu ini kerap pula digaungkan oleh para politisi Indonesia.
Menurut Perry, ucapan McCain ini 'menyalahi' kebiasaan politisi di AS yang umumnya menutup mulut terhadap setiap isu korupsi yang mendera partai asalnya. Menjawab pertanyaan salah seorang wartawan, sambil tersenyum Perry berujar, "Jangan dikira di AS tidak akan korupsi".
Mengenai kebijakan perdagangan luar negeri, McCain dan Obama memiliki perbedaan visi yang tajam. McCain menekankan pentingnya perdagangan bebas sementara Obama cenderung bersikap proteksionis dan mengutamakan kepentingan AS.
"Perlu ditelaah juga, mana yang membawa manfaat paling besar untuk masyarakat Indonesia," jelas pria berjenggot tipis ini. Sebelum menutup diskusi, tak lupa Perry mengapresiasi pilihan Indonesia terhadap demokrasi.
(ita/ita)











































