Kampung Duren Seribu, Parung, Bogor dikenal dengan sebutan Kampung Mercon. Kampung itu sejuk penuh dengan pepohonan nan rindang. Jarak antar rumah penduduk pun masih berjauhan. Beberapa orang tua tampak lenyeh-lenyeh (bersantai) di baranda teras mereka.
"Wah...susah nyari petasan di sini. Kita sudah nggak bikin lagi kan sudah dilarang," kata Siti (56) kepada detikcom, Kamis (4/9/2008).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Dia sempat masuk penjara 10 hari. Terus disuruh nebus Rp 2,5 juta ke polisi," kata perempuan yang mulai memutih rambutnya itu.
Sutarman (61) mengaku bisnis membuat mercon sudah dijalani keluarga besarnya sejak tahun 1970.
"Kita membuat mercon dari 3 bulan sebelum puasa hingga bulan puasa. Jadi kalau bulan puasa tinggal menjual," ujar kakek yang ditemani cucu perempuannya.
Sutarman membuat mercon di rumahnya hingga menghabiskan kertas ratusan kilogram. "Itu sih bisnis turun temurun dari zaman dulu. Hasilnya lumayan bisa buat lebaran," ujar Sutarman di warung miliknya.
Kini, Kampung Mercon senyap dari aktivitas membuat petasan di bulan Ramadan. Namun demikian, beberapa warga mengaku masih menerima order petasan untuk acara hajatan dan pernikahan.
"Ya kala ada order kami bikin. Tapi itu juga harus hati-hati," kata seorang warga yang tidak mau disebut namanya itu. (asp/aan)











































