Fredi: Surat Saya Antar ke Rumah Mbak Widya Belum Terbuka

Kasus Kematian Sophan Sophiaan

Fredi: Surat Saya Antar ke Rumah Mbak Widya Belum Terbuka

- detikNews
Kamis, 04 Sep 2008 14:30 WIB
Fredi: Surat Saya Antar ke Rumah Mbak Widya Belum Terbuka
Jakarta - Fredi Soemitro, peserta Konvoi Jalur Merah Putih (JMP) mengaku membawa surat Polda Jatim mengenai kecelakaan Sophan Sophiaan ke rumah Widyawati. Saat menyerahkan surat itu, Fredi memastikan bahwa surat itu masih dalam kondisi tertutup.

Penjelasan Fredi ini disampaikan dalam jumpa pers di sebuah kantor di Jalan Lamandau no 9, Jakarta Selatan, Kamis (4/9/2008). Dalam jumpa pers itu, Fredi didampingi mantan Kapolri Jenderal Pol (purn) Roesmanhadi dan Laksama Muda (Purn) Pieter Watimena. Fredi tidak tahu mengapa surat tersebut diterima Widyawati dalam kondisi sobek.

Menurut Fredi, surat itu ia bawa karena dia mendapat amanah dari Kasatlantas Polres Ngawi. Saat itu, usai diperiksa di Polres Ngawi, dirinya dititipi dua surat yang di-steples untuk diberikan kepada keluarga Sophan. "Saat sampai di rumah Mbak Widya,  waktu itu Mbak Widya sedang tidur. Jadi, barang-barang itu saya titipkan ke Romi (anak Sophan). Saya memastikan surat itu belum terbuka saat saya serahkan kepada Romi," kata dia.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Karena itu dia membantah dirinya membuka dan membaca surat itu terlebih dulu. Dia juga membantah dugaan bahwa dirinya berencana membuang surat tersebut. "Kalau saya berniat membuang surat itu, Kasat Lantas tidak akan membuat tanda terima kepada saya.  Jadi saya gampang untuk membuangnya, kalau saya berniat," ujar dia.

Pada kesempatan itu, Fredi juga menyinggung mengenai masih diteruskannya konvoi JMP meski Sophan mengalami kecelakaan. "Saat di dalam ambulans di Bandara Adi Soemarmo, saya yang meminta Mbak Widya membolehkan kami melanjutkan perjalanan. Karena Pak Sophan ingin misi JMP ini diselesaikan. Jadi, bukan atas kemauan kita sendiri misi  ini kita lanjutkan. Tapi atas sepengetahuan Mbak Widya," ujar Fredi.

Sementara itu, Roesmanhadi juga mendapat cecaran pertanyaan wartawan mengenai kematian Sophan. Antara lain, Roesmanhadi ditanya mengenai adanya kejanggalan kematian Sophan bila dilihat dari hasil rontgen. Melalui pemeriksaan rontgen itu, diketahui bahwa banyak tulang rusuk Sophan patah.

"Hasil rontgen yang memperlihatkan bahwa almarhum  terlindas, itu adalah urusan dokter. Saya tidak tahu urusan itu," kata Roesmanhadi. Sebelumnya, dalam penjelasannya, Roesmanhadi mengaku tidak menabrak motor Sophan.

Roesmanhadi menjelaskan bahwa seseorang yang berumur di atas 60 tahun sangat rentan patah tulang. "Umur 60 tahun ke atas rentan sekali patah tulang. Hanya saja saat itu ada darah yang menutupi paru-paru. Pada waktu itu, tidak ada lebam mayat di jenazah almarhum," ujar Roesmanhadi. (asy/gah)


Berita Terkait