Penjelasan Fredi ini disampaikan dalam jumpa pers di sebuah kantor di Jalan Lamandau no 9, Jakarta Selatan, Kamis (4/9/2008). Dalam jumpa pers itu, Fredi didampingi mantan Kapolri Jenderal Pol (purn) Roesmanhadi dan Laksama Muda (Purn) Pieter Watimena. Fredi tidak tahu mengapa surat tersebut diterima Widyawati dalam kondisi sobek.
Menurut Fredi, surat itu ia bawa karena dia mendapat amanah dari Kasatlantas Polres Ngawi. Saat itu, usai diperiksa di Polres Ngawi, dirinya dititipi dua surat yang di-steples untuk diberikan kepada keluarga Sophan. "Saat sampai di rumah Mbak Widya, waktu itu Mbak Widya sedang tidur. Jadi, barang-barang itu saya titipkan ke Romi (anak Sophan). Saya memastikan surat itu belum terbuka saat saya serahkan kepada Romi," kata dia.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pada kesempatan itu, Fredi juga menyinggung mengenai masih diteruskannya konvoi JMP meski Sophan mengalami kecelakaan. "Saat di dalam ambulans di Bandara Adi Soemarmo, saya yang meminta Mbak Widya membolehkan kami melanjutkan perjalanan. Karena Pak Sophan ingin misi JMP ini diselesaikan. Jadi, bukan atas kemauan kita sendiri misi ini kita lanjutkan. Tapi atas sepengetahuan Mbak Widya," ujar Fredi.
Sementara itu, Roesmanhadi juga mendapat cecaran pertanyaan wartawan mengenai kematian Sophan. Antara lain, Roesmanhadi ditanya mengenai adanya kejanggalan kematian Sophan bila dilihat dari hasil rontgen. Melalui pemeriksaan rontgen itu, diketahui bahwa banyak tulang rusuk Sophan patah.
"Hasil rontgen yang memperlihatkan bahwa almarhum terlindas, itu adalah urusan dokter. Saya tidak tahu urusan itu," kata Roesmanhadi. Sebelumnya, dalam penjelasannya, Roesmanhadi mengaku tidak menabrak motor Sophan.
Roesmanhadi menjelaskan bahwa seseorang yang berumur di atas 60 tahun sangat rentan patah tulang. "Umur 60 tahun ke atas rentan sekali patah tulang. Hanya saja saat itu ada darah yang menutupi paru-paru. Pada waktu itu, tidak ada lebam mayat di jenazah almarhum," ujar Roesmanhadi. (asy/gah)











































