"Itu karena kami sudah tidak mendampingi lagi," kata CEO PT SHI Iswahyudi saat dihubungi lewat telepon, Kamis (4/9/2008).
Dia menjelaskan, dahulu perusahaannya menawarkan kerjasama kepada petani untuk menanam Supertoy. Dan dijanjikan, bila tidak memenuhi hasil maksimal setiap lahan akan diganti gabah 13 Juta per hektar. Dan PT SHI melakukan pendampingan pada Desember 2007 hingga panen pertama April 2008, terbukti hasilnya bagus. Tapi karena ada satu dan lain hal pihaknya balik kanan meninggalkan petani.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dari estimasinya, setiap 1 hektar lahan menghasilkan 7 ton gabah. Tapi yang disetorkan kepadanya oleh petani hanya 2-3 ton saja.
"Kita ini swasta berpikirnya bisnis. Begitu melihat hasil panen tidak disetor, saya tidak mau ribut. Kita cari lagi tempat di mana kira-kira secara bisnis kondusif," jelasnya.
Padi temuan Tuyung Supriyadi itu lanjut Iswahyudi, kini ditanam juga di Madiun, Ponorogo, Sulawesi, dan sebagian Sumatera. "Coba Anda lihat saja sendiri ke sana. Di daerah itu sudah panen kedua dan hasilnya bagus, seperti Rojolele. Itu karena kita dampingi. Sekarang dari luar negeri juga sudah tertarik," urainya.
Dia justru menengarai kala didampingi dahulu, petani Purworejo tersebut tidak mau belajar dan mengerjakan sendiri. Padahal padi ini dengan hanya sekali tanam bisa 3 kali panen.
"Saya denger isu petani tidak mengerjakan sendiri tapi membayar pihak lain (KPT)," tandasnya. (ndr/iy)











































