detikNews
Selasa 13 Mei 2008, 06:52 WIB

10 Tahun Reformasi

Amien Rais \'Selamatkan Indonesia\'

- detikNews
Amien Rais \Selamatkan Indonesia\
Jakarta - Bertepatan 10 tahun Orde Reformasi, Amien Rais yang dikenal sebagai tokoh reformasi menuangkan kritik-kritik pedasnya dalam sebuah buku. Buku berjudul 'Agenda Mendesak Bangsa, Selamatkan Indonesia!' pun diluncurkan.

Buku yang ditulis Amien Rais ini diterbitkan oleh  PPSK Press, dengan tebal 298 halaman. Buku ini diluncurkan Amien Rais hari ini, Selasa (13/5/2008),  di sebuah gedung di kawasan Senayan, Jakarta. Selain terkait 10 tahun Reformasi, saat ini Indonesia juga memperingati 100 tahun (satu abad) Kebangkitan Indonesia.

Hari ini 10 tahun lalu merupakan sejarah pahit bagi Indonesia. Sebab, tepat 10 tahun lalu, kerusuhan Mei sebagai proses upaya pelengseran Presiden Soeharto terjadi. Banyak korban tewas, kebakaran di banyak tempat, penjarahan di mana-mana, darah berceceran, dan air mata membanjiri bumi Nusantara ini. Nama Amien Rais saat itu menghiasi media massa, sebagai salah satu tokoh yang berani memberi kritik pedas terhadap pemerintahan Soeharto dan berani melakukan perlawanan.

Sepuluh tahun berlalu, lima tahun di antaranya dihabiskan duduk di kursi Ketua MPR RI, Amien tetap saja menyuarakan kritik. Di saat tidak punya jabatan di pemerintahan dalam empat tahun terakhir, Amien yang saat ini kembali ke UGM dengan menjabat ketua Majelis Wali Amanat (MWA) UGM, tetap saja mengasah hobinya untuk memberikan kritik.

Di dalam buku ini, Amien mengaku bahwa dirinya menyampaikan ulasan, usulan. dan kritikan. Amien sadar bukunya ini akan dianggap sebagai kritik yang tajam, terutama oleh pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). "Saya sadar bahwa usulan kritis dalam risalah ini oleh sebagian masyarakat, khususnya pemerintah Yudhoyono, dianggap terlalu keras dan tajam," tulis Amien dalam kata pengantarnya.

Bagi Amien, masalah besar Indonesia yang senantiasa bergejolak adalah mengapa bangsa Indonesia terus saja miskin, terbelakang, dan tercecer dalam derap kemajuan bangsa-bangsa lain. Salah satu yang dianalisis Amien adalah karena nasionalisme bangsa Indonesia yang sempit, yang hanya bergelora pada penampilan luarnya.

Dia mengibaratkan bangsa ini sebagai rumah di pinggir jalan raya. Nah, bangsa dan pemerintah Indonesia yang memiliki rumah ini memiliki obsesi aneh. Obsesi itu adalah bagaimana rumah pagar itu selalu terlihat bersih, mengkilat, dan tidak boleh berdebu. Adalah tampak muka rumah yang paling penting, yang lain masih bodoh, yang penting penampilan.

"Sehingga ketika perabotan rumah dicuri di depan mata si pemilik rumah, ia tidak begitu peduli. Bahkan ketika istri dan anak-anaknya dibawa keluar oleh orang lain, si pemilik rumah tidak mengambil tindakan apa pun. Ia hanya bisa menonton, seolah tidak ada sesuatu yang dirisaukan," tulis mantan ketua umum DPP PAN ini.

Amien menyindir hal ini terkait dengan penguasaan asing terhadap aset-aset nasional Indonesia. Banyak sumber daya alam (SDA) yang dikuasai oleh negara adidaya. Apa yang terjadi saat ini merupakan pengulangan sejarah tiga abad lalu, saat Nusantara mulai dikuasai oleh VOC (Vereenigde Oost-Indische Compagnie).

Menurut Amien, saat ini, pada dasarnya kekuatan-kekuatan korporatokrasi di awal abad 21 tidak mudah, bahkan mustahil dengan gampang bisa mengacak-acak kedaulatan ekonomi Indonesia, seandainya elit nasional tidak membungkuk dan tiarap. Masalahnya, saat ini, banyak pemimpin Indonesia yang masih mewarisi mental inlander.

Amien mencontohkan kehadiran Presiden AS George W Bush pada akhir 2006 lalu. Menurut dia, banyak pemimpin bangsa Indonesia yang 'ketakutan' dan merasa panas dingin karena Presiden Bush akan mampir ke Indonesia.

"Pengamanan yang diberikan kepada Presiden AS yang di negerinya sendiri sudah tidak populer itu sungguh berlebih dan sekaligus agak memalukan. Tidak ada negara mana pun di dunia yang menyambut Presiden Bush seperti maharaja diraja, kecuali Indonesia di masa kepemimpinan SBY. Seolah Indonesia telah menjadi vazal atau negara protektorat AS," tegas Amien.


(asy/asy)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com