detikNews
Selasa 23 Juli 2019, 13:05 WIB

Hasil Lengkap Survei KRPA soal Relasi Pelecehan Seksual dengan Pakaian

Danu Damarjati - detikNews
Hasil Lengkap Survei KRPA soal Relasi Pelecehan Seksual dengan Pakaian Ilustrasi pelecehan seksual (Oleh Edi Wahyono/detikcom)
Jakarta - Koalisi Ruang Publik Aman (KRPA) menyimpulkan pakaian terbuka yang dikenakan perempuan tidak menjadi penyebab pelecehan seksual. Bahkan 17% korban pelecehan seksual mengenakan pakaian tertutup. Berikut survei lengkapnya.

Hasil survei dipaparkan Koalisi Ruang Publik Aman dalam jumpa pers yang dihadiri media massa pada Rabu (17/7) pekan lalu. Paparan telah menunjukkan sebagian hasil survei tentang busana yang dikenakan saat responden mengalami pelecehan seksual. Ada lima jenis pakaian yang menempati peringkat teratas yakni rok, hijab, baju lengan panjang, seragam sekolah, dan baju longgar.



Hasil survei mengenai perempuan berbusana tertutup juga menjadi korban pelecehan seksual terus bergaung di perbincangan publik, tak terkecuali di jejaring media sosial. Apalagai dalam survei itu disebutkan ada 17 persen korban pelecehan seksual yang berasal dari kategori pengguna jilbab. Di luar lima jenis pakaian perempuan korban pelecehan seksual sebagaimana dipaparkan dalam konferensi pers survei itu, sebenarnya ada belasan jenis pakaian lain yang belum dipaparkan.

Survei mengenai pakaian yang digunakan perempuan saat kena pelecehan seksual ini adalah bagian dari hasil survei nasional terkait pelecehan di ruang publik. Survei dilakukan oleh Koalisi Ruang Publik Aman (KRPA), terdiri dari Komunitas Hollaback Jakarta, perEMPUan, Lentera Sintas Indonesia, Perkumpulan Lintas Feminis Jakarta (JDFG), dan Change.org. Mereka menyatakan ada 62.224 responden yang berpartisipasi dalam survei ini. Survei digelar saat Kampanye 16 Hari Anti Kekerasan terhadap Perempuan (25 November-10 Desember) pada 2018 lalu.



Berdasarkan keterangan dari pendiri kelompok perEMPUan, Rika Rosvianti, survei tentang pakaian yang digunakan perempuan saat kena pelecehan seksual diikuti 32.341 responden. Hanya responden perempuan yang pernah mengalami pelecehan seksual saja yang ditanyai soal jenis pakaian ini. Berikut hasilnya:

Pakaian yang digunakan perempuan saat kena pelecehan seksual

1. Rok atau celana panjang 17,47% (5.651 responden)
2. Baju lengan panjang 15,82% (5.117 responden)
3. Baju seragam sekolah 14,23% (4.601 responden)
4. Baju longgar 13,80% (4.462 responden)
5. Berhijab pendek/sedang 13,20% (4.268 responden)
6. Baju lengan pendek 7,72% (2.496 responden)
7. Baju seragam kantor 4,61% (1.492 responden)
8. Berhijab panjang 3,68% (1.190 responden)
9. Rok atau celana selutut 3,02% (976 responden)
10. Baju/celana ketat 1,89% (612 responden)
11. Rok atau celana pendek 1,31% (425 responden)
12. Turban/tutup kepala 0,70% (227 responden)
13. Lainnya 0,54% (174 responden)
14. Jaket 0,50% (163 responden)
15. Celana jeans 0,46% (149 responden)
16. Baju agak transparan 0,44% (143 responden)
17. Tank top/tanpa lengan 0,36% (115 responden)
18. Berhijab dan bercadar 0,17% (55 responden)
19. Dress 0,08% (25 responden)
Total: 100% (32.341 responden)

"Korban yang berhijab sekitar 17%, merupakan jumlah gabungan antara hijab pendek dan hijab panjang," kata Rika saat dimintai penjelasan, Selasa (23/7/2019). Sebelumnya, Koalisi Ruang Publik Aman memang menyebut jumlah korban pelecehan yang berhijab sebanyak 17%.

Hasil Lengkap Survei KRPA soal Relasi Pelecehan Seksual dengan PakaianPendiri kelompok perEMPUan, Rika Rosvianti (Dok Pribadi)

Mereka menyimpulkan, pelecehan seksual tidak disebabkan oleh jenis pakaian. Soalnya, korban pelecehan seksual ternyata juga mencakup perempuan berpakaian terbuka dan berpakaian tertutup.

"Hasil survei ini jelas menunjukkan bahwa tak ada hubungan antara pakaian yang dikenakan korban dengan pelecehan seksual," kata Rika.



Bagaimana metode survei ini? Responden diberi kuesioner berisi pilihan jenis pakaian. Bila tak ada jenis pakaian yang sesuai dengan jawaban responden, maka responden akan mengisi pilihan "lainnya", hasilnya ada 0,54% responden yang mengisi pilihan "lainnya".

Ini adalah survei lewat internet, via mailing list dan media sosial. Tak ada margin of error dan angka tingkat kepercayaan yang dicantumkan di survei. Meski ini merupakan survei lewat internet, namun Koalisi Ruang Publik Aman meyakini hasil survei ini bisa dipercaya.

"Walaupun begitu, hasil surveinya tetap valid karena merupakan kisah nyata dari ribuan orang di seluruh Indonesia," kata Rika Rosvianti.



(dnu/fjp)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com