ADVERTISEMENT
detikNews
Kamis 20 Juni 2019, 18:56 WIB

Silahturahmi LDII, Wakil Ketua MPR Cerita Asal Usul Halalbihalal

Nurcholis Ma'arif - detikNews
Silahturahmi LDII, Wakil Ketua MPR Cerita Asal Usul Halalbihalal Foto: MPR
Jakarta - DPP Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII) menggelar Silaturahmi Syawal 1440 H di kantor DPP LDII di Jakarta. Acara bertema 'Merajut Keindahan Ukhuwah Melestarikan Jati Diri Bangsa' tersebut dihadiri Wakil Ketua MPR RI Ahmad Basarah dan para tokoh nasional dari partai politik serta pimpinan ormas-ormas keagamaan.

Wakil Ketua MPR Ahmad Basarah, mengatakan forum halalbihalal ini menyatukan semua yang berbeda-beda latar belakangnya dan menegaskan bahwa LDII menunjukkan diri sebagai ormas keagamaan yang tak berafiliasi dengan parpol manapun.

"Sehingga PDIP bisa datang ke sini membaur dengan tokoh-tokoh Islam lainnya. Di forum ini, antara kader-kader PAN, Golkar, PDIP bisa mewujudkan ukhuwah wathoniyah dan ukhuwah basyariyah," ujar Basarah dalam keterangan tertulis Kamis (20/6/2019).


Basarah juga mengenang asal usul Silaturahmi Syawal yang kini disebut halalbihalal. Silaturahmi Syawal menurutnya mulai dilaksanakan pada 1948. Saat itu, Indonesia dalam keadaan terpecah belah, para elit politik saling bertentangan, bahkan ada pemberontakan DI/TII dan PKI.

"Lalu Kiai Wahab Chasbullah mengusulkan kepada Soekarno untuk mempertemukan para tokoh politik dalam suasana Idul Fitri. Usul itu dilontarkan Kiai Wahab Chasbullah pada pertengahan Ramadan," ujar Basarah.

Lanjut Basarah, Soekarno saat itu menanyakan Silaturahmi Syawal itu dinamakan apa? Lalu Kiai Wahab Chasbullah menyarankan dipakai istilah halalbihalal dan Soekarno menyetujuinya. Soekarno lalu mengundang semua tokoh politik ke Istana Negara untuk menghadiri silaturahmi bertajuk halal bihalal.

"Inilah yang kemudian disebut halal bihalal yang istilahnya saat ini mulai diasingkan dengan istilah open house. Di luar negeri, halalbihalal atau open house juga sudah ditiru menjadi tradisi umat Islam dunia, seperti di Singapura dan Malaysia," ujar Basarah.


Basarah juga mengingatkan agar tak ada lagi perpecahan di kalangan nasionalis dan Islam. Ia mengingatkan lahirnya Piagam Jakarta dalam sidang-sidang BPUPKI dulu adalah atas prakarsa Soekarno yang merupakan tokoh nasionalis.

"Begitu pula dengan perubahan Piagam Jakarta menjadi Sila Ketuhanan Yang Maha Esa juga karena peran tokoh-tokoh Islam yang menjadi pendiri bangsa yang ikut menyetujuinya," ujar Basarah.

Basarah melanjutkan bahwa peran Hatta juga sangat besar karena beliaulah yang telah melobi tokoh-tokoh Islam tersebut sehingga berhasil mencapai titik temu di antara pandangan para pendiri bangsa pada waktu itu. Hatta melihat negara ini dibangun di atas berbagai agama dan golongan.

"Lobi Bung Hatta dalam masalah yang sensitif itu ternyata berhasil dan dapat diselesaikan hanya dalam beberapa jam saja, bukan bertahun-tahun. Hal itu karena para tokoh-tokoh ulama para pendiri bangsa adalah tokoh-tokoh negarawan yang juga amat mencintai negaranya," ujar Basarah.

Ketua Umum DPP LDII Abdullah Syam menegaskan silaturahmi ini merupakan pertemuan anak bangsa untuk menciptakan persatuan dan kesatuan bangsa dari berbagai latar belakang untuk membangun masa depan Indonesia yang lebih baik.

Pada kesempatan yang sama, Ketua DPP LDII Chriswanto Santoso mengatakan kehadiran para tokoh nasional dan para anggota DPR dari berbagai partai karena LDII mengedepankan prinsip keterwakilan bukan keterpilihan.

"Seseorang bisa terpilih menjadi anggota DPR bisa karena uangnya banyak, sehingga terpilih namun ia belum tentu mewakili rakyat. LDII selalu bisa bekerja sama dengan anggota DPR dari berbagai fraksi yang memiliki keterwakilan," ujar Chrsiwanto.

Chriswanto juga berharap saat komponen bangsa sudah bersatu, pembangunan bisa dilaksanakan secara berkelanjutan. Pasalnya. persatuan sangat penting sebagai modal pembangunan.
(mul/mpr)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed