DetikNews
Jumat 04 Januari 2019, 09:46 WIB

Momen Langka, Besok Umat Hindu Rayakan Kuningan Sekaligus Siwaratri

Aditya Mardiastuti - detikNews
Momen Langka, Besok Umat Hindu Rayakan Kuningan Sekaligus Siwaratri Ilustrasi Hari Raya Galungan di Bali (Dok. detikcom)
Denpasar - Umat Hindhu di Bali besok merayakan dua hari raya sekaligus yaitu Hari Raya Kuningan dan Siwaratri. Pertemuan dua hari raya ini merupakan salah satu momen langka yang terjadi 30-50 tahun sekali. Apa maknanya?

"Kalau Siwaratri itu pertemuannya (dengan Kuningan) sekitar 30-50 tahun sekali. Jadi agak lama supaya dengan wariga, sehingga Kuningan bertepatan dengan Siwaratri ini sangat suci dan sakral nilai spiritnya sangat tinggi," kata Ketua Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Bali I Gusti Ngurah Sudiana ketika dihubungi, Jumat (4/1/2018).

Ngurah menjelaskan hari raya Kuningan yang dirayakan seminggu setelah Galungan, diyakini sebagai turunnya leluhur dan para dewa dari surga untuk memberikan anugerah kepada umat manusia. Sementara Siwaratri adalah momen pengendalian diri yang dilakukan dengan tiga brata yaitu upawasa (puasa), muna (tidak bicara), dan jagra (tidak tidur).

"Ketika dua hari raya ini bersamaan sekaligus merayakan dua hari besar, Kuningan dilakukan pagi hari sampai jam 12.00 Wita, sedangkan Siwaratri dari jam 06.00 Wita sampai pukul 18.00 Wita hari Minggu (6/1)," terangnya.

Ngurah menuturkan, saat Kuningan umat Hindu melakukan persembahyangan di pura keluarga hingga tengah hari. Upacara ini bermakna untuk meminta berkat kepada dewata supaya alam beserta segala isinya lebih baik dan sejahtera.

"Kalau lewat tengah hari diyakini para dewa dan leluhur sudah meninggalkan dunia ini pergi ke alamnya, alam niskala. Persembahyangan pagi sampai siang hari khususnya di rumah, kalau mau sembahyang di pura-pura lain itu sudah masyarakat. Kalau sudah melaksanakan tengah hari untuk keperluan lain tidak dilarang, tetap sah," terangnya.


Sementara itu, upacara hari raya Siwaratri merupakan momen untuk pengendalian diri. Masing-masing brata memiliki makna agar manusia menjadi insan yang lebih baik.

"Pada saat brata itu kalau yang melaksanakan jagra dan upawasa itu brata madya, tapi begadang selama 36 jam itu bukan berarti begadang-begadang saja. Artinya dia harus dalam aplikasinya waspada terhadap kehidupan ini, melek godaan, melek tantangan, melek kemiskinan, melek kebodohan yang menghalangi kehidupan, ingat menjadi manusia mempunyai tujuan memperbaiki karma-karma untuk menjadi baik," terangnya.

"Upawasa selama 36 jam itu maksudnya adalah supaya bisa mengendalikan mulut, perut, supaya tidak makan sembarangan, kalau nanti dari kehidupan ini makan dari hasil yang baik. Jangan karena mulut dan perut ini jadi jatuh ke kehidupan yang berikutnya, kami percaya reinkarnasi. Muna itu tidak bicara maksudnya jangan sampai orang mengumbar perkataan sembarangan. Berkata harus yang baik-baik saja, berkata yang bermanfaat bagi kehidupan, tidak menyakiti, tidak fitnah yang menyebabkan orang lain sakit hati," sambung Ngurah.

Ngurah menyebut selama hari Siwaratri, umat Hindu menghaturkan pujian dan mengingat Tuhan dalam manifestasi Dewa Siwa. Dengan harapan ketika selalu mengingat Tuhan ada peleburan dosa.

"Dalam pelaksanaan ketiga brata itu umat Hindu itu mengucapkan nama Tuhan dalam manifestasinya dalam Dewa Siwa, mengucapkan nama Om Namaha Shivaya, atau nama-nama yang berkaitan dengan Tuhan 'Om' selama 36 jam baik secara langsung maupun dalam hati, dengan demikian akan mendapat pahala sesuai lontar Siwaratri Kala atau Siwabrana barangsiapa yang melaksanakan Siwaratri dengan baik dan mengucapkan nama Tuhan, dalam manifestasi Dewa Siwa maka dosanya akan dilebur. Dalam pengucapan itu orang melaksanakan yoga, baik yoga dalam bentuk duduk ataupun dalam aktivitas, itu yang memang harus dijalankan oleh umat hindu sehingga dalam 36 jam itu pelaksanaan Kuningan berjalan persembayangan dengan menghaturkan sajen, dan Siwaratri itu sesuai dengan Siwaratri itu sendiri," terangnya.


Dia pun berpesan agar anak-anak muda tak melangsungkan jagra (begadang) di tempat-tempat keramaian. Melainkan di tempat-tempat suci agar mendapatkan pahala.

"Kepada anak-anak muda jangan melaksanakan Siwaratri di tempat-tempat yang memungkinkan bahaya, misalnya begadang di pinggir pantai, begadang tengah jalan nanti ditabrak mobil, kalau begadang jangan di mal nanti uangnya habis. Kalau begadang di sekolah, pura, rumah, di tempat suci lainnya pahalanya sangat besar, dan ada pembacaan kitab suci sehingga jalannya Siwaratri dan Kuningan ini sangat bermakna membangun karakter dan kepribadian umat Hindu dari yang tidak bagus menjadi bagus, dari yang sudah baik menjadi lebih baik," pesan Ngurah.


Momen Langka, Besok Umat Hindu Rayakan Kuningan Sekaligus Siwaratri

(ams/rna)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed