DetikNews
Kamis 27 Desember 2018, 19:04 WIB

Kaleidoskop 2018

Sore di Palu dan Donggala: Gempa, Tsunami, dan Likuifaksi

Danu Damarjati - detikNews
Sore di Palu dan Donggala: Gempa, Tsunami, dan Likuifaksi Foto: dok. istimewa
Jakarta - Fenomena alam berupa gempa, tsunami, dan likuifaksi mengguncang kawasan Sulawesi Tengah. Peristiwa itu menjadi duka mendalam untuk Indonesia tahun 2018.

Belum usai masyarakat Lombok menata puing berserak akibat bumi berguncang, Palu dan Donggala diguncang gempa pada 28 September 2018. Sore itu menjadi awal tragedi.

Bumi berguncang

Pukul 17.02 WIB, gempa bermagnitudo 7,4 mengguncang Kota Palu dan Donggala. Pusat gempa ada pada kedalaman 10 km, jaraknya ada di 27 km sebelah timur laut Donggala. Saking kencangnya getaran itu, kursi dan meja orang-orang di Kabupaten Gowa sampai bergetar, padahal Kabupaten Gowa berjarak sekitar 780 km dari Kota Palu.



Gara-gara Sesar Palu-Koro yang menggeliat ini, jembatan di dekat Pantai Talise patah. Kubah Masjid Baiturrahman yang berwarna hijau juga ikut roboh. Hotel Roa-roa roboh menimbun orang-orang di dalamnya.

Tsunami datang

Badan Metereologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) mengaktivasi peringatan dini tsunami, status siaga untuk pantai Donggala barat dan waspada untuk Donggala utara, Mamuju, dan Kota Palu bagian barat.

Tsunami setinggi hampir 6 meter dengan kecepatan 800 km/jam menerjang Pantai Talise, ketinggian ombak meraih baliho tinggi dekat pantai. Orang-orang kalang-kabut, jerit kepanikan memekik.



Yang berhasil mencapai bangunan tinggi dan cukup kuat bisa selamat, misalnya di Palu Grand Mall. Bahkan rekaman video dari Palu Grand Mall viral di media sosial. Namun banyak sekali yang menjadi korban jiwa keganasan gelombang dari laut itu. Bangunan-bangunan luluh-lantak, listrik mati, saluran telekomunikasi terputus.

Air laut naik hingga mencapai Lantai 2 Hotel Mercure, Palu. Hal ini disampaikan Wali Kota Makassar Muhammad Ramdhan 'Danny' Pomanto lewat percakapannya dengan Asisten II Pemkot Makassar, Sittiara (Ira).

Kejadian ini disampaikan Wali Kota Makassar Muhammad Ramdhan 'Danny' Pomanto lewat percakapannya dengan Asisten II Pemkot Makassar Sittiara (Ira), yang saat ini berada di Palu, Sulteng. Sittiara berada di Palu dan tempat menginapnya di hotel bintang empat itu rusak. Kawasan pantai Donggala juga kena tsunami. BMKG mengakhiri peringatan dini tsunami pukul 17.36 WIB.

Bandara Ditutup

Bandara Mutiara Sis Al Jufri Palu ditutup gara-gara gempa itu. Menara Air Traffic Controler (ATC) rusak, lantai empatnya rubuh. Landasan pacu retak 500 meter.

Seorang petugas ATC bernama Anthonius Gunawan Agung bertahan di menara saat gempa berguncang, demi memandu pesawat Batik Air untuk lepas landas. Seketika tugasnya ditunaikan, dia melompat dari menara lantai empat. Dia mengalami luka-luka dan nyawanya tak tertolong saat hendak dilarikan ke rumah sakit.

Kondisi Bandara Sis Al Jufri usai diguncang gempa. Kondisi Bandara Sis Al Jufri usai diguncang gempa. Foto: Istimewa


Karena bandara di Palu lumpuh, maka tim evakuator saat itu bergerak melalui Balikpapan dan Makassar. Barulah pada Sabtu 29 September sore hari, bandara di Sis Al Jufri di Palu dibuka namun masih terbatas untuk pesawat Hercules yang mengangkut bantuan saja.

Negara kerahkan kekuatan

Perangkat pemerintahan di kawasan terdampak gempa-tsunami sempat sulit dihubungi. Maklum saja, kondisi tengah kacau balau.

"Tadi saya mencoba menghubungi Gubernur sejak sore tadi juga tidak bisa sambung karena memang kelihatannya komunikasi terganggu," ujar Jokowi dalam konferensi pers di kediamannya di Solo, Jateng, Jumat (28/9/2018).

Di Jakarta, Menteri Koordinator Bidang Politik Hukum dan Keamanan (Menko Polhukam) Wiranto segera mengadakan rapat darurat untuk menangani gempa dan tsunami di Palu dan Donggala. Tim Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), TNI, hingga teknisi segera bergerak menuju Palu dan Donggala.

Likuifaksi

Gempa tak hanya diikuti gelombang laut raksasa, tapi juga fenomena tanah bergerak. Sejak saat itu, orang-orang di seantero negeri membicarakan fenomena itu, namanya adalah likuifaksi.

Informasi adanya tanah bergerak muncul dari Sigi, pada Sabtu (29/9/2018). Bangunan dan pohon di kawasan itu bergerak dan amblas. Kepala Pusat Data Informasi dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Sutopo Purwo Nugroho mengunggah video fenomena likuifaksi itu.

Sore di Palu dan Donggala: Gempa, Tsunami, dan LikuifaksiKondisi Balaroa akibat likuifaksi. Foto: Jafar Bua/detikcom


Penggemburan tanah akibat gempa magnitudo 7,4 adalah faktor yang menyebabkan likuifaksi. Rumah bisa amblas ke dalam bumi. Manusia yang menghuni rumah itu juga bisa terkubur. Likuifaksi terjadi di Sigi, Petobo, dan kawasan Palu Selatan. Petobo menjadi yang terparah, ratusan rumah ditelan bumi.

Korban dan kerugian

Hingga 20 Oktober 2018, korban tewas akibat bencana gempa, tsunami, dan likuifaksi di Sulawesi Tengah itu mencapai 2.113 jiwa, sebanyak 1.703 jiwa di antaranya ada di Kota Palu. Sebanyak 4.612 orang mengalami luka berat. Ada 223.751 orang mengungsi di 122 titik.

Menurut catatan akhir tahun BNPB Selasa (18/12/2018), angka korban jiwa diperbaharui. Korban meninggal sebanyak 2.101 jiwa, sebanyak 1.727 jiwa di antaranya ada di Kota Palu, 188 jiwa di Sigi, 171 jiwa di Donggala, 15 jiwa di Parigi Moutong, 1 jiwa di Pasangkayu.

Adapun korban hilang sebanyak 1.373 jiwa. Korban luka-luka ada 4.438 jiwa. Sebanyak 221.450 orang mengungsi. Dampak kerugian senilai Rp 2,89 triliun, dampak kerusakan senilai RP 15,58 triliun.
(dnu/bag)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed