detikNews
Rabu 12 Desember 2018, 13:08 WIB

Alasan Mendasar Grace Natalie Menolak Poligami

Gibran Maulana Ibrahim - detikNews
Alasan Mendasar Grace Natalie Menolak Poligami Foto: Grandyos Zafna/detikcom
Jakarta - Ketua Umum Partai Solidaritas Indonesia (PSI) Grace Natalie menyampaikan pidato politik akhir tahun 2018. Dalam pidato itu, Grace menyuarakan perlawanan terhadap hoax serta menolak poligami. Ada alasan khusus?

Dalam keterangan Grace yang diterima detikcom, Rabu (12/12/2018), pidato tersebut diberi judul 'Keadilan untuk Semua, Keadilan untuk Perempuan Indonesia'. Grace awalnya menceritakan betapa dirinya kini sering terharu ketika mendengar atau menyanyikan lagu 'Indonesia Raya'. Ada cinta yang makin besar terhadap negeri ini, sekaligus kecemasan yang dirasakan Grace.

"Orang menyebut ini adalah abad ketersinggungan, sebuah abad yang penuh amarah. Masa ketika politik dipenuhi oleh prasangka yang tumbuh subur akibat meluasnya hasutan dan ujaran kebencian," kata Grace.

Grace lalu bicara soal penelitian seseorang bernama Cherian George yang mengatakan ada rekayasa ketersinggungan yang diciptakan 'entrepreneur kebencian'. Hasutan kebencian itu disebutnya disebarkan lewat media sosial. Itulah yang disebut Grace sebagai produk hoax.

"Hasutan kebencian ini tersebar melalui social media dalam bentuk hoax. Informasi palsu yang sengaja dibuat menyerupai kebenaran. Hoax yang merajalela akan menenggelamkan akal sehat. Memperkuat politik identitas, politik perkauman. Itulah ancaman terbesar bagi persatuan kita hari ini," sebut Grace.

Grace mengatakan perempuan juga kerap jadi korban kebencian, termasuk dirinya. Dia mengungkit fitnah yang menyebut dirinya punya hubungan khusus dengan Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok. Grace juga mengungkit pidatonya tentang penolakan perda berbasis agama yang berujung laporan. Satu lagi kasus yang diungkitnya ialah soal editan foto dirinya seolah-olah berpenampilan porno.

Selain dia, Grace menyebut caleg PSI dari Dapil Sumut III, Dara Adinda Nasution, mengalami pelecehan dan disebut 'pelacur'. Dara disebut Grace menceritakan pelecehan yang ia alami melalui artikel di salah satu media cetak.

Ada juga Susy Rizky, caleg PSI dari Jabar VI. Nomor telepon Susy, kata Grace, disebarkan di grup laki-laki iseng sebagai perempuan bayaran. Setahun terakhir, Susy disebut memblokir enam ribu nomor telpon yang mengganggunya setiap malam.

"Itulah risiko yang perempuan hadapi ketika masuk ke politik dan berani menyuarakan pendapat," sebut Grace.

Grace tak mau kader perempuan PSI hanya diam menghadapi hoax tersebut. Meski demikian, dia meminta PSI tak membalas dengan membuat atau menyebarkan hoax tandingan.

"Untuk menanggapi serangan itu, kepada seluruh pengurus dan kader PSI saya instruksikan: jika lawan politik menyebar fitnah dan hoax, kita tidak boleh ikut-ikutan!" tegasnya.

"Ketika mereka memainkan politik rendahan, kader PSI justru harus meninggikan mutu. Meningkatkan kualitas, belajar lebih banyak, perbaiki cara berargumen, turun ke basis-basis melanjutkan kerja perubahan, sambil terus berani mengatakan yang benar!" sambung eks jurnalis itu.

Grace lanjut bicara soal ketidakadilan yang dialami perempuan. Dia pun kemudian dengan tegas menolak poligami.

"Tapi kita tidak boleh lupa, di tengah berbagai kemajuan, masih ada banyak perempuan mengalami ketidakadilan. Riset LBH APIK tentang poligami menyimpulkan bahwa pada umumnya, praktik poligami menyebabkan ketidakadilan: perempuan yang disakiti dan anak yang ditelantarkan," sebut Grace.

"Karena itu, PSI tidak akan pernah mendukung poligami. Tak akan ada kader, pengurus, dan anggota legislatif dari partai ini yang boleh mempraktikkan poligami. Apakah kalian akan rela jika ibu kalian diduakan? Apakah Bro and Sis rela jika kakak atau adik Bro and Sis dimadu? Apakah Bro and Sis rela jika anak Bro and Sis menjadi istri kedua atau ketiga? Tidak, kita pasti tidak rela!" imbuhnya.
(gbr/van)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com