detikNews
Sabtu 24 November 2018, 08:45 WIB

Makan Buah Langka, Lidah Hanif Wicaksono Mati Rasa

Sudrajat - detikNews
Makan Buah Langka, Lidah Hanif Wicaksono Mati Rasa Hanif W memamerkan buah durian khas Kalimantan, Mahrawin dan Kerantungan. (Dok. Pribadi)
Jakarta -

Perjalanan karier Mohamad Hanif Wicaksono berubah drastis ketika mertuanya di Kalimantan Selatan berpulang ke rahmatullah pada 2011. Dia memutuskan berhenti sebagai guru SMP di Batu, Malang, dan menetap di kampung halaman sang istri.

"Ketika mertua saya wafat, saya pilih menemani istri pulang ke Kabupaten Balangan, Kalimantan Selatan," kata Hanif saat dihubungi detikcom melalui telepon, Jumat (23/11/2018).

Di Kalimantan, sarjana ilmu komunikasi lulusan Universitas Muhammadiyah, Malang, itu tak punya pekerjaan tetap. Status sebagai penyuluh keluarga berencana baru ia dapatkan pada 2014. Toh begitu, setiap akhir pekan dia punya kebiasaan rutin, yakni keluar-masuk hutan.

Aktivitas itu memberikan pengalaman unik sekaligus menambah pengetahuannya, terutama soal keragaman flora khas Kalimantan. Ada banyak jenis pohon dengan buah yang baru dilihatnya di Kalimantan. Sebut saja buah limpasu, sejenis mangga yang bentuknya kecil tapi rasanya mirip kedondong. Lalu buah lahung, sejenis durian yang kulitnya berwarna merah.

Beruntung, sebagai sarjana komunikasi, lelaki kelahiran Blitar, 18 Agustus 1983, itu pandai bergaul dengan warga sekitar. Kepada mereka, dia banyak bertanya ihwal pepohonan dan buah yang baru dilihatnya. "Tapi tak banyak juga warga yang mengenali. Ini memprihatinkan sekali karena mereka tak lagi mengenal tanaman dan buah di sekitarnya," ujar Hanif.

Kenyataan itu diam-diam melecut dirinya untuk secara sadar menginventarisasi jenis pohon dan buah yang ditemukannya di hutan. Dia memfoto, mencatat, dan menggali informasi terkait melalui jaringan internet.

Kacai (Momordica sp). Rasanya seperti buah labuhKacai (Momordica sp). Rasanya seperti buah labu. (Foto: Dok. Hanif Wicaksono)

Sejak 2012, dia sudah menjelajah hutan di enam kabupaten di wilayah Kalimantan Selatan. Ada kalanya dia ditemani tokoh masyarakat setempat, tapi sering kali berjalan sendirian berjam-jam masuk ke hutan. "Ada kalanya saya tersesat. Tapi untungnya kalau di Kalimantan itu patokannya ya sungai. Kalau ada sungai berarti ada perkampungan," ujarnya.

Karena sering blusukan sendirian itu pula, dia pernah mengalami mati rasa. Saat mencicipi sebuah buah yang semula rasanya asam. Tapi 2-3 jam setelah memakan buah yang namanya belum teridentifikasi itu, lidahnya terasa gatal. "Setelah itu saya mati rasa, nggak bisa menikmati makanan apa pun. Saya biarkan aja, setelah tiga hari hilang sendiri," ujar Hanif.

Total sekitar 160 pohon dan buah langka di dalam hutan Kalimantan telah dia identifikasi. Hal itu kemudian dia dokumentasikan dalam buku bertajuk 'Potret Buah Nusantara Masa Kini' pada November 2016. Buku setebal 200 halaman itu dia tulis bersama mentornya, Bapak Reza. Kini, dia tengah menyiapkan enam jilid draf buku bertajuk 'Buah Hutan Kalimantan Selatan' yang akan diluncurkan pada Desember tahun ini. "Sengaja saya disain supaya mudah dipahami oleh masyarakat awam, termasuk pelajar sekolah menengah," ujar Hanif.

Tak cuma itu. Dia juga berupaya menularkan passion dan pengetahuannya itu kepada warga sekitar dengan membuat Program Tunas Meratus. Program ini fokus mengumpulkan, mendokumentasikan, membibitkan, dan membudidayakan tanaman buah asli Kalimantan. Selain itu, mengedukasi masyarakat tentang pentingnya pelestarian sumber daya plasma nutfah Kalimantan.

Atas dedikasinya tersebut, Hanif mendapatkan penghargaan Satu Indonesia Award 2018 dari Astra. Hari ini, dia akan berbicara dalam diskusi bertajuk 'Pohon Langka Melawan Punah' di Perpustakaan Nasional, pukul 13.00-16.00. Akan turut berbicara dalam rangka memperingati Hari Pohon Sedunia itu Prof Tukirin Partomihardjo dari LIPI dan Iyan Robiansyah dari IPB.




(jat/jat)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com