DetikNews
Jumat 12 Oktober 2018, 13:38 WIB

Kenapa Hoax Kian Lama Kian Liar?

Ahmad Toriq - detikNews
Kenapa Hoax Kian Lama Kian Liar? Ilustrasi (Foto: dok. Thinkstock)
Jakarta - Kian lama hoax terasa kian liar. Media sosial dan aplikasi obrolan makin sesak oleh informasi palsu yang meresahkan. Kenapa itu terjadi?

Pakar komunikasi digital Universitas Indonesia Dr Firman Kurniawan Sujono punya analisis soal kian liarnya hoax. Dia mengajukan dua teori.

"Teori pertama: manusia cenderung mengimitasi perilaku manusia lain. Dalam adanya perilaku tertentu yang mendatangkan daya tarik, itu akan diimitasi manusia lain," kata Firman kepada detikcom, Jumat (12/10/2018).


Contohnya, kata Firman, ketika seseorang mem-posting kekhawatiran, kecemasan, ketakutannya di sebuah media sosial dan mendapatkan tanggapan dari khalayak lainnya, perilaku ini akan diikuti orang lain lebih banyak. Terjadilah kopi perilaku untuk mendapatkan respons yang sama. Termasuk jika yang di-share adalah konten hoax. Terjadilah jejaring hoax.

"Teori kedua, kekhawatiran, kecemasan, dan ketakutan bisa bersumber dari keadaan cognitive dissonance. Disonansi terjadi ketika ada gap antara pengetahuan-keyakinan dengan perilaku aktual. Manusia normal, di luar kesadarannya, menghendaki keadaan konsonan. Maka diperlukan upaya tertentu, termasuk berkomunikasi, ketika seseorang mengalami disonansi, agar kembali nyaman," ulas Firman.

Dr Firman Kurniawan Sujono. Dr Firman Kurniawan Sujono (Foto: dok. Istimewa)


Dalam hal hoax, dia melanjutkan, ketika informasi tecerna pengguna media sosial tertentu dan membuatnya pada posisi disonan, ia perlu mengembalikan diri pada posisi konsonan. Hoax yang diterimanya, walaupun belum jelas kebenarannya, telah mengubah keseimbangan konsonansinya. Lalu, agar kembali ke keadaan konsonan, dia merasa perlu menindaklanjuti informasi yang diterimanya dengan berkomunikasi, dan tak tertutup kemungkinan juga dengan menyebarkan ke jejaring yang lebih luas.

"Dua keadaan di atas pada gilirannya memperlebar jangkauan hoax. Semakin banyak masyarakat yang mengkonsumsi hoax akan menyebabkan imitasi perilaku yang sejenis. Juga, masyarakat yang mengalami disonansi akibat hoax merasa perlu bertindak untuk kembali ke posisi konsonan, dengan melemparkan hoax yang telah diterimanya," ujar Firman.

"Jadilah masyarakat hidup dalam perangkap hoax yang makin rumit dan tak tuntas. Kebenaran menjadi makin sulit diraih," imbuhnya.


Namun kondisi itu bukan tanpa jalan keluar. Firman mengatakan harus ada peran aktif dari pihak-pihak yang memahami gelombang hoax.

"Pihak-pihak yang memahami mekanisme gelombang hoax harus membangun sistem ketahanan masyarakat terhadap hoax. Apa itu? Menahan kecemasan, kekhawatiran dan ketakutan terhadap informasi yang belum jelas kebenarannya. Inilah yang disebut sebagai literasi emosi masyarakat terhadap informasi. Satu fase lebih lanjut dari literasi media," pungkasnya.


Simak Juga 'MUI Nyatakan Menyebar HOAX itu Haram':

[Gambas:Video 20detik]



(tor/fjp)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed