DetikNews
Selasa 14 Agustus 2018, 09:19 WIB

HUT RI Ke-73

Menapak Usia 91 Tahun, Ini Heroiknya Sukiyarno Perang Lawan Jepang

Erliana Riady - detikNews
Menapak Usia 91 Tahun, Ini Heroiknya Sukiyarno Perang Lawan Jepang Foto: Sukiyarno (erliana/detikcom)
FOKUS BERITA: HUT RI Ke-73
Blitar - Sukiyarno adalah satu-satunya anggota tentara Pembela Tanah Air (Peta) Blitar yang tersisa. Lelaki berusia 91 tahun ini, masih nampak sehat. Dia juga masih setia menunggu Kantor Pejuang Perintis Kemerdekaan yang berada di areal monumen Peta di Jalan Sudanco Supriyadi Kota Blitar.

Dulu di gedung tua bercat hijau inilah, Peta Daindan (Batalyon) Blitar terbentuk. Bangunan yang dibagi menjadi dua bagian ini menjadi markas komando Peta Batalyon Blitar. Ada 350 warga Blitar menjadi anggotanya.

"Satu persatu teman saya di Peta meninggal. Tinggal saya setiap hari menunggu gedung ini sampai mati," ucapnya mengawali cerita, Selasa (14/8/2018).

Saat bergabung menjadi tentara Peta, usia Sukiyarno masih 18 tahun. Dalam batalyon itu, dia bertugas di bagian penghubung. Tugasnya, mengantarkan surat dinas Jepang dari Batalyon Blitar ke Batalyon lain. Seperti Kediri, Tulungagung dan Nganjuk.

Ketika pemberontakan Peta terjadi 14 Februari 1945 gagal, sebanyak 78 anggota ditangkap dan dijebloskan ke penjara. Enam orang divonis mati, enam orang dihukum seumur hidup. Dan sisanya dihukum sesuai kesalahannya masing-masing.

Sukiyarno mengaku, tanggal 14 Februari siang dia masih bertemu Supriyadi. Menurut Sukiyarno, Supriyadi tidak ikut ditangkap bersama 78 anggota. Katanya, Supriyadi mendatangi satu per satu anggota di Batalyon Blitar.

"Saat saya tanya, mau ke mana Pak. Jawabnya yo arep ngulon, pokok e ngulon (mau ke barat. Pokoknya mau ke barat)," ungkapnya.

Namun esok harinya, dia tak lagi bertemu komandannya itu hingga saat ini. Ketika pagi usai latihan perang, Sukiyarno bersama seorang rekannya dimasukkan mobil sedan warna hitam.

"Tanggal 15 Februari pagi, saya dan Moekiran orang Talun tiba-tiba dinaikkan sedan. Ternyata kami dibawa ke Kampetei Kediri. Di sana saya disiksa suruh ngaku kalau kerjasama dengan Supriyadi. Dua malam saya ditaruh di kandang anjing herder," bebernya.

Sukiyarno beruntung. Dia hanya ditahan selama dua malam. Lelaki kelahiran 27 Agustus 1927 ini membawa luka sayatan samurai ditangan kirinya, pulang. Saat dibebaskan, dia harus jalan kaki dari Kediri menuju rumahnya di kawasan Sananwetan Kota Blitar.

Sepulang dari Kediri, Sukiyarno mendengar banyak temannya dihukum di hutan wilayah Nganjuk. Mereka ditinggalkan begitu saja oleh tentara Jepang di dalam hutan, dan dilarang keluar dari areal itu. Ada juga yang kabarnya dipancung di wilayah Blitar selatan.

Selang tujuh bulan kemudian, posisi Jepang mulai melemah di Indonesia. Hingga proklamasi kemerdekaan dikumandangkan 17 Agustus 1945.

"Setelah kemerdekaan, Peta dibubarkan. Saya masuk di Tentara Perintis Kemerdekaan. Saat inilah saya ikut perang besar," tutur bapak dengan sembilan anak ini.

Dalam sejarah perjuangan, Kota Blitar tak pernah tercatat sebagai lokasi terjadinya pertempuran besar. Namun sebagian tentara Peta yang tersisa lalu bergabung dalam Tentara Perintis Kemerdekaan. Beberapa perang mempertahankan kemerdekaan dilakoni tentara ini. Pertempuran 10 Nopember di Surabaya, diakui Sukiyarno paling mengesankan.

"Waktu perang di Pesapen, tempat saya berdiri dibombamdir peluru dan bom. Ada yang meledak hanya lima meter di depan saya. Saya tiarap di lobang bekasnya bom itu. Kalau ndak, mungkin sudah hancur berkeping-keping tubuh saya waktu itu," ungkapnya.

Namun akibat ledakan yang memekakkan telinga itu, Sukiyarno hilang pendengaran di telinga kiri. Beberapa perang masa agresi militer Belanda I yakni 21 Juli - 5 Agustus 1947. Juga perang dalam agresi militer Belanda II, 19 Desember 1948 masih tetap dilakoninya.

Ketika sudah tak ada perang, Sukiyarno baru berani memutuskan menikah. Dia mempersunting gadis asal Kediri. Pasangan ini dikaruniai sembilan anak.

"Alhamdulillah sembilan anak saya semuanya jadi sarjana. Kalau zaman saya tantanganya penjajah. Zaman anak saya harus pinter semua. Karena tantangannya melawan kebodohan biar bisa mengisi kemerdekaan," pungkasnya.


Simak Juga 'Kisah Veteran Pro Integrasi Berkunjung ke Jakarta':

[Gambas:Video 20detik]


(asp/asp)
FOKUS BERITA: HUT RI Ke-73
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed