DetikNews
Minggu 24 September 2017, 16:24 WIB

3 Cagub Sulsel Bersaing Ketat di Survei Poltracking

Muhammad Nur Abdurrahman - detikNews
3 Cagub Sulsel Bersaing Ketat di Survei Poltracking Foto: Ilustrator: Luthfy Syahban/detikcom
Makassar` - Persaingan ketat diprediksi akan terjadi dalam Pilgub Sulawesi Selatan (Sulsel) pada 27 Juni 2018. Setidaknya, ada 3 bakal calon gubernur yang akan berkompetisi yaitu Nurdin Abdullah, Nurdin Halid dan Ichsan Yasin Limpo.

Dari hasil survei Poltracking Indonesia, persaingan ketiganya ditampilkan. Poltracking melakukan survei terhadap 800 responden dengan metodologi stratifikasi multi stage random sampling dengan margin error 3,5 persen.

Survei itu dilakukan dengan menyodorkan 11 nama kandidat. Hasilnya, apabila Pilgub Sulsel digelar besok maka Nurdin Halid berada di posisi pertama dengan 8,87 persen, disusul Nurdin Abdullah 8,57 persen, kemudian Ichsan Yasin Limpo 6,01 persen dan Agus Arifin Nu'mang 3,96 persen.

Sedangkan, responden yang belum menyatakan sikap (undecided voters) 64,66 persen. Kemudian yang jawab tidak tahu 2,69 persen dan sisanya menjawab rahasia.

Sedangkan dari tren survei 'Top of Mind', figur kandidat dari survei pertama Poltracking pada 18-24 Mei dan periode kedua pada 10-17 Agustus, terjadi penurunan 2 poin pada figur Nurdin Abdullah dari 10,05 persen turun ke angka 8,57 persen. Sedangkan Nurdin Halid naik drastis dengan capaian 7 poin dari 1,93 persen menjadi 8,87 persen. Adapun Ichsan naik 4 poin dari 2,96 menjadi 6,01 persen.

Sedangkan tingkat akseptabilitas Ichsan yang merupakan adik kandung Gubernur Sulsel Syahrul Yasin Limpo meraih poin tertinggi yaitu 53 persen, disusul Nurdin Halid 50 persen, Wagub petahana Agus 49 persen dan Nurdin Abdullah 47 persen.

Adapun tingkat elektabilitas (keterpilihan) kandidat Ichsan masih unggul dari 15 kandidat lainnya, dengan angka 18,80 persen mengungguli Nurdin Halid 18,46 persen, Nurdin Abdullah 15,47 persen dan Agus 8,31 persen.

Peneliti Poltracking Aria Budi dalam keterangan pers menyebutkan perebutan suara pemilih akan kompetitif dengan peluang terjadinya pergeseran pilihan selama 8 bulan sebelum pemungutan suara.

"Masih sulit menentukan siapa kandidat yang mempunyai elektabilitas tertinggi pada tiap kandidat karena selisih angka elektabilitas masih di bawah margin error 3,5 persen, jarak 8 bulan pemungutan suara nanti karena sangat ketat dan kompetitif," ujar Aria.

Aria menegaskan waktu 8 bulan sebelum hari pencoblosan lebih dari cukup untuk memacu meningkatkan aspek keterpilihan, kesukaan dan popularitas kandidat, dengan pelbagai strategi seperti upgrade personal branding kandidat, kinerja positif mesin politik yang terdiri dari mesin Parpol dan relawan serta pergumulan isu-isu seputar kandidat seperti kasus dan prestasi kandidat dan tidak lupa untuk mengenali karakteristik perilaku pemilih yang berbeda.

"Durasi 8 bulan masih memungkinkan terjadi geseran yang signifikan, seperti Jakarta berubah dalam seminggu. Paparan informasi melimpah dibandingkan Pemilu sebelumnya besar pengaruhnya untuk pemilih, pergerakan pemilih independen yang tidak lagi mengikuti preferensi kata tokoh atau kiyainya, serta kerja tim untuk menutupi kasus atau kelemahan dengan prestasi atau sisi positif kandidat," pungkas Aria.
(dhn/tor)
Komentar ...
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed