DetikNews
Kamis 23 Maret 2017, 11:59 WIB

JPPI: Indeks Pendidikan Indonesia di Bawah Ethiopia dan Filipina

Cici Marlina Rahayu - detikNews
JPPI: Indeks Pendidikan Indonesia di Bawah Ethiopia dan Filipina Foto: Seminar Bridging The Gap Between Education Policy and Implementation (Cici-detikcom)
Jakarta - Jaringan Pemantau Pendidikan Indonesia (JPPI) melakukan penelitian Right to Education Index (RTEI) guna mengukur pemenuhan hak atas pendidikan di berbagai negara. Hasil penelitian menyatakan kualitas pendidikan di Indonesia masih di bawah Ehtiopia dan Filipina.

Penelitian ini dilakukan di 14 negara secara random, yakni Inggris, Kanada, Australia, Filipina, Ethiopia, Korea Selatan, Indonesia, Nigeria, Honduras, Palestina, Tanzania, Zimbabwe, Kongo dan Chili.

Penelitian ini dipublikasikan dalam 'International Seminar and Report Launch' di Hotel Santika, Jalan Pintu 1 TMII, Ceger, Cipayung, Jakarta Timur, Kamis (23/3/2017), dengan mengangkat tema 'Bridging The Gap Between Education Policy and Implementation'.

Dalam penelitian ini ada 5 indikator yang diukur oleh JPPI, di antaranya governance, availability, accessibility, acceptability, dan adaptability. Dari kelima indikator yang diukur Indonesia menempati urutan ke-7 dengan nilai skor sebanyak 77%.

Tentunya hal ini kurang membanggakan, karena menunjukkan kualitas pendidikan yang belum memadai. Skor tersebut sama dengan dua negara lainnya yaitu, Nigeria dan Honduras. Selain itu kualitas pendidikan di Indonesia, berada di bawah Filipina dan Ethiopia.

"Ya jadi dari indeks ini sebenarnya berasal dari 5 indikator itu ya, hasilnya 77%, nah dari beberapa itu ada 3 hal yang skor-nya masih rendah itu tentang kualitas guru (availability), sekolah yang belum ramah anak (acceptability), satu lagi soal pendidikan atau akses bagi kelompok-kelompok marginal (adaptability)," kata Ubaid Matraji selaku Koordinator Nasional JPPI ketika ditemui.

Menurut Ubaid dari 3 hal tersebut, skor kualitas guru rendah karena tidak meratanya ketersediaan guru pada daerah terdepan, terluar, dan terpencil. Ia juga mengatakan hal ini tidak sebanding dengan anggaran yang sudah dihabiskan untuk gaji guru.

"Kemudian yang kedua lingkungan sekolah belum ramah anak ya, kekerasan, kemudian seksual pelecehan itu sering terjadi di sekolah, dan masih menjadi bulan-bulanan di media lah, dan masih banyak lagi, anak yang diculik segala macem, itu juga skornya kecil, pemerintah harus memberikan pengawasan tidak harus dari sekolah, tapi komite dan yang lainnya juga harus saling berkontribusi, agar kekerasan di sekolah tidak terjadi lagi," ujarnya.

Problem lainnya adalah adaptability atau akses pendidikan bagi kelompok marginal. Ia mengaku Indonesia belum bisa memberikan hak pendidikan bagi anak-anak tersebut.

Berikut urutan peringkat kualitas pendidikan berdasarkan RTEI:

1. Inggris : 87%
2. Kanada : 85%
3. Australia : 83%
4. Filipina : 81%
5. Ethiopia : 79%
6. Korea Selatan : 79%
7. Indonesia : 77%
8. Nigeria : 77%
9. Honduras : 77%
10. Palestina : 76%
11. Tanzania : 73%
(rvk/erd)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed