Melihat RS dan Water Park Rohadi, PNS PN Jakut yang Terbelit Saipul Jamil

Melihat RS dan Water Park Rohadi, PNS PN Jakut yang Terbelit Saipul Jamil

Andi Saputra - detikNews
Rabu, 27 Jul 2016 12:24 WIB
Indramayu - Meski hanya PNS di Pengadilan Negeri Jakarta Utara (PN Jakut), tapi kekayaan Rohadi cukup memukau. Pria yang sehari-hari sebagai panitera pengganti itu memiliki rumah sakit dan sedang membangun perumahan elite dilengkapi water park. Wow!

Sebagaimana dikutip dari detikX, Rabu (27/7/2016), RS milik Rohadi itu bernama RS Reysa Permata. Letaknya di Desa Cikedung Lor, Kecamatan Cikedung, Indramayu, Jawa Barat.

Dari depan, gedung RS kelas D itu tampak mencolok dengan adanya gapura ala bangunan Bali berwarna merah tua. RS seluas 5 ribu meter persegi itu memiliki tiga bangunan besar dengan tiga bangunan utama yaitu bangunan pertama untuk klinik perawatan kecantikan, bangunan kedua untuk lobi, IGD dan apotek serta bangunan ketika untuk rawat inap, klinik cuci darah dan ruang dokter.

Pembangunan itu dimulai sejak 2014 dan kini memiliki delapan ruangan rawat inap yang diberi nama-nama bunga seperti tulip, teratai dan kamboja. Tiap ruang dapat diisi 4 hingga 5 pasien.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Duduk sebagai direktur PT Reysa Permata yaitu Adji Hoesodo. Pada November 2015, Adji mengklaim RS itu bakal menjadi RS cuci darah terbesar di Indramayu dengan 50 mesin cuci darah.

Selidik punya selidiki, izin pembangunan RS itu bermasalah.

"Itu izin bisa keluar, padahal tidak ada rekomendari dari kami (Dinas Kesehatan Indramayu). Kata BPMP (Badan Penanaman Modal dan Perizinan), nama yang mengajukan adalah Wahyu Widayati, istri Rohadi yang pertama," kata Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Indramayu, Dedi Rohadi, kepada detikX.

Di belakang RS itu, Rohadi telah membebaskan tanah seluas 16 hektare, dari total 160 hektare yang direncanakan, untuk pembangunan Dream Park Cikedung. Dalam master plan real estate itu, akan dibangun kompleks menengah atas dengan fasilitas water park, swalayan hingga taman bermain.

Proyek dimulai dengan melakukan pengurukan sejak 2015 dan pembangunan fisik sejak Februari 2016. Tapi gara-gara Rohadi dicokok KPK pada akhir Mei 2016, pembangunan real estate itu mandek.

Soal kekayaan itu tidak ditampik pengacara Rohadi, Tonin Tachta Singarimbun. Tapi Rohadi, menurut Tonin, hanyalah perantara karena investor sesungguhnya adalah lima orang yang tidak dibuka identitasnya oleh Tonin. Mereka juga mendapatkan lima unit mobil Mitsubishi Pajero dari Rohadi.

"Jadi orang itu entah dari mana, mau menjanjikan ada investor. Ubahlah sawah ini jadi rumah sakit, water park, dan real estate," ujar Tonin.

Proyek Rohadi terhenti seiring penangkapan dirinya oleh KPK saat menerima sejumlah uang dari pengacara Berthanatalia terkait putusan Saipul Jamil. Bertha merupakan istri hakim Pengadilan Tinggi Bandung, yang pernah menjadi atasan Rohadi.

Kasus makin rumit saat KPK mengembangkan kasus itu dengan memanggil anggota DPR dari Partai Gerindra, Sareh Wiyono. KPK memeriksa Sareh terkait temuan uang Rp 700 juta di dalam mobil Fortuner yang dikendarai Rohadi. Benang merah Sareh-Rohadi yaitu Sareh pernah menjadi Ketua PN Jakut 2003-2006, sedangkan kala itu Rohadi juga panitera pengganti di pengadilan yang sama. (asp/nrl)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads