detikNews
Jumat 10 Juni 2016, 16:24 WIB

Nilai Rata-rata UN SMP Tahun 2016 Turun 3 Poin dari Tahun Lalu

Yulida Medistiara - detikNews
Nilai Rata-rata UN SMP Tahun 2016 Turun 3 Poin dari Tahun Lalu Siswa SMP di Bekasi saat pelaksanaan UN/ Foto: Rachman Haryanto
Jakarta - Mendikbud Anies Baswedan memaparkan hasil UN SMP tahun 2016. Hasilnya rata-rata nilai UN SMP tahun ini menurun 3 poin dari tahun lalu. Mendikbud menjelaskan penurunan ini karena Indeks Integritas UN meningkat.

Anies memaparkan hasil UN SMP dalam konferensi pers berjudul Pemaparan Hasil Ujian Nasional SMP 2016 di kantornya, Jl Jenderal Sudirman. Tahun ini UN diikuti oleh 4,3 juta siswa di 60 ribu SMP sederajat. Ada 4,2 juta siswa yang mengikuti UN berbasis kertas dan pensil dan 156 ribu siswa yang menggunakan UN berbasis komputer (UNBK).

Berdasarkan data Kemendikbud, pada tahun 2015 nilai rata-rata siswa SMP sebesar 62,18 persen, sedangkan pada tahun 2016 nilai rata-rata UN SMP senilai 58,57 persen atau turun 3,6 poin dari tahun lalu. Angka yang menurun tersebut menurut Anies karena ada sekolah yang mengalami peningkatan nilai Indeks Integritas UN (IIUN) sebanyak 72 persen. Rinciannya sebanyak 21,16 persen sekolah yang memiliki nilai IIUN yang naik yang diikuti nilai UN yang meningkat. Serta sebanyak 50,96 persen sekolah yang memiliki IIUN (tingkat kejujurannya) naik tetapi nilai UN-nya turun. Kemudian ada 13,61 persen sekolah yang menggunakan kecurangan secara masif dan terstuktur dan 14,27 persen sekolah yang siswanya melakukan kecurangan secara individu.

"Dengan program indeks integritas UN naik dan mendorong hasil UN terkoreksi sehingga semakin menggambarkan realita atau makin jujur di dalam penerapan. Tingkat kejujurannya naik maka nilai yang keluar lebih akurat mendekati kemampuan siswa yang sebenarnya. IIUN itu kecurangannya berkurang. Artinya praktek curang baik itu yang dikerjakan sistematis maupun one on one itu ada kesadaran, akhirnya saya lebih percaya dengan diri sendiri daripada orang lain di diri siswa SMP. Bisa jadi memang kegiatan percontekan secara sistematis menurun, ini suatu perkembangan positif dalam bayangan kami," ujar Mendikbud Anies.

Anies menyebut dari hasil IIUN tersebut terlihat ada 42 persen siswa Indonesia sebenarnya belum mencapai nilai standar yang ditetapkan oleh Badan Standar Nasional Pendidikan, yakni masih di bawah 55. Sedangkan siswa yang memiliki nilai rata-rata di atas 85 ada 4,04 persen atau 168 ribu siswa dan siswa yang memiliki nilai 70 hingga 85 ada 837 ribu siswa.

"Yang mendapat angka di atas 85 itu ada 168 ribu siswa, siswa yang dapat nilai 70-75 ada 837 artinya hampir 1 juta anak Indonesia yang bisa bersaing di tengah-tengah MEA, jika dibandingkan dengan jumlah lulusan sekolah menengah Singapura ada sekitar 40-45 ribu siswa per tahun dan jumlah lulusan siswa SMP Malaysia ada sekitar 400 ribu per tahun, jadi anak-anak hampir 1 juta ini lah yang bisa memasuki persaingan nanti kita tidak kalah dengan negara tetangga," ujar Anies.

Anies mengapresiasi daerah yang menunjukan peningkatan IIUN, daerah yang tertinggi adalah Yogyakarta, DKI Jakarta, Bangka Belitung, Jawa Tengah, Jawa Barat, Bengkulu, dan Kepulauan Riau. Selanjutnya, soal UN nantinya akan lebih difokuskan pada soal kemampuan penalaran dan analisa, siswa dituntut untuk mempelajari soal sesuai dengan kurikulum bukan hanya berdasarkan kisi-kisi dari sekolah atau tempat les. Dengan adanya IIUN ini, angka yang di dapat bisa dijadikan bahan evaluasi Kemendikbud kepada sekolah-sekolah untuk membina guru-guru dan anak murid di sekolahnya.

"Sekarang kita bisa mengetahui lebih baik di pembinaan SD, SMP, SMA bisa memanfaatkan data ini menjadi lebih baik. Kalau sekarang bisa di analisa dan menjawab apa masalahnya. Kita bisa melakukan inervensi kepada sekolah-sekolah yang kita evaluasi. Jadi terus dibina lagi, terus menerus dibina," ujar Mendikbud.
(rvk/rvk)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com