detikNews
Rabu 27 April 2016, 07:43 WIB

Manusia Purba Sangiran

Temuan Penting Fosil Manusia Purba Tertua dari Sangiran

Muchus Budi R. - detikNews
Temuan Penting Fosil Manusia Purba Tertua dari Sangiran Perbandingan tengkorak Homo Erectus Arkaik dengan tengkorak Homo Sapien (Foto: MuchusBR/Detikcom)
Jakarta - Jumat, 5 Februari 2016 lalu, seorang petani bernama Setu Wiryorejo menemukan benda yang tak biasa di sungai Bojong, anak Bengawan Solo. Temuan berupa pecahan tengkorak itu ternyata fosil manusia purba tertua yang langka dan penting bagi ilmu pengetahuan.

Sungai Bojong itu terletak tak jauh dari rumah Setu. Saat itu, dia sedang menggarap sawahnya. Setu melihat sebuah benda berbentuk mirip tengkorak. Sebagai penduduk yang tinggal di kawasan cagar budaya, Setu sadar itu bukan tengkorak biasa. Tapi fosil.

Setu kemudian melaporkan hal itu ke Balai Pelestarian Situs Manusia Purba di Sangiran, Sragen. Tim dari Balai kemudian melakukan identifikasi dan temuan ini diyakini sebagai atap tengkorak dari manusia purba Homo Erectus Arkaik, golongan manusia purba tertua yang pernah tercatat di Sangiran.

"Ini temuan sangat penting. Sejak balai ini didirikan tahun 1984, jarang ditemukan fosil manusia. Paling sering ditemukan adalah ratusan fosil hewan dan peralatan. Apalagi yang ditemukan kali ini adalah fosil manusia purba Homo Erectus Arkaik, manusia purba tertua yang hidup antara 1,5 hingga 1 juta tahun lalu," ujar Kepala Balai Pelestarian Situs Manusia Purba, Sukronedi, kepada detikcom, Rabu (27/4/2016).

Temuan Homo Erectus Arkaik di Sangiran (Foto: MuchusBR/Detikcom)


Homo Erectus Arkaik yang hidup antara 1,5 hingga 900 ribu tahun lalu adalah golongan manusia purba tertua. Di atasnya ada Homo Erectus Tipik yang hidup antara 800 ribu hingga 300 ribu tahun yang lalu. Terakhir, ada Homo Erectus Progresif yang hidup antara 300 ribu hingga 100 ribu tahun lalu.

Fosil yang ditemukan di Sungai Bojong itu berukuran panjang 14 cm, lebar 12 cm dan tinggi 10 cm. Para peneliti mengatakan Homo Erectus Arkaik memiliki volume otak sebesar 800 cc dengan ketebalan tulang tengkorak 1,5 cm. Ukuran lebih besar dimiliki oleh Homo Erectus Tipik sebesar 1.000 cc dan Homo Erectus Progresif sebesar 1.100 cc. Sedangkan manusia modern memiliki volume otak sebesar 1.400 cc.

"Fosil temuan Pak Setu ini sangat mirip dengan temuan kumpulan atap tengkorak yang ditemukan oleh GHR von Koenigswald tahun 1939 yang saat ini tersimpan di Frankfrut, Jerman. Rencana kami, nanti setelah diteliti akan dikonservasi, temuan yang terakhir ini akan disimpan di Sangiran untuk dipajang sebagai koleksi museum," lanjut Sukronedi.

Kepala Balai Pelestarian Situs Manusia Purba, Sukronedi (Foto: Muchus/detikcom)

(mad/imk)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com