DetikNews
Jumat 19 Februari 2016, 11:00 WIB

Hoax Or Not

Isu Perhiasan Emas Bisa Menguji Kandungan Merkuri di Kosmetik

Salmah Muslimah - detikNews
Isu Perhiasan Emas Bisa Menguji Kandungan Merkuri di Kosmetik Foto: Ilustrasi oleh Andhika Akbarayansyah/detikcom
Jakarta -

Isu:


Cara menguji kosmetik yang mengandung merkuri menggunakan perhiasan emas baik cincin, kalung atau gelang sudah banyak dilakukan masyarakat awam. Cara ini juga disebarkan di berbagai media sosial, bahkan juga ditayangkan di televisi untuk iklan produk kecantikan.

Metode ini adalah dengan cara mengoleskan produk kecantikan tersebut ke punggung telapak tangan, lalu digosok dengan emas. Apabila warna produk itu berubah menjadi hitam maka kosmetik itu mengandung merkuri. Produk kecantikan yang biasa diuji misalnya lipstik, bedak atau cream wajah.

Apakah benar uji merkuri di kosmetik bisa dilakukan dengan cara tersebut?

Investigasi:

detikcom menanyakan hal tersebut kepada Deputi II Pengawasan Bidang Obat Tradisional, Kosmetika dan Produk Komplemen Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM), Ondri Dwi Sampurno. Menurut Ondri BPOM tidak menyarankan uji merkuri di kosmetik menggunakan metode emas karena belum ada bukti ilmiah soal itu.

"Kami telah telusuri pustaka, tidak menemukan metode seperti itu," kata Ondri kepada detikcom, Kamis (18/2/2016).

BPOM dalam menguji kandungan merkuri dalam kosmetik menggunakan alat Spektrometer Serapan Atom (Atom Absorption Spectrometer- AAS). Metode ini hanya dapat dilakukan di laboratorium, karena prosesnya melalui pembakaran sampel terlebih dahulu untuk selanjutnya dapat terdeteksi.

"Metode ini memiliki sensitivitas dan spesifitas yang tinggi terutama dalam kadar yang sangat kecil dan berada dalam campuran," jelas Ondri.

Menurut Ondri, bila ditemukan merkuri dalam kosmetik maka biasanya kadarnya sangat rendah dan berada dalam campuran dengan bahan-bahan lain. Sehingga sulit dideteksi bila tidak dilakukan menggunakan alat AAS tersebut.

Ondri mengimbau agar masyarakat tidak menggunakan metode menggosok menggunakan emas untuk menguji kandungan merkuri. Bila memang ingin mengecek apakah produk tersebut bermerkuri atau tidak bisa dilakukan dengan "Cek KIK" yaitu Cek Kemasan, Cek Izin dan Cek Kadaluarsa.

1. Cek kemasan. Apabila kemasan rusak atau tidak baik, sebaiknya tidak dibeli. Hal ini dimungkinan kemasan yang rusak dapat terkontaminasi baik disengaja atau tidak disengaja.

2. Cek izin edar. Kosmetika yang beredar harus dinotifikasi atau didaftarkan di BPOM. Setelah diverifikasi dokumen yang ada, akan dikeluarkan nomor izin edar atau nomor notifikasi dengan huruf CX di mana X bisa A/B/C/D/E tergantung kosmetik tersebut bila impor dari negara mana selanjutnya diikuti angka 11 digit spt 12345678910.

3. Cek kadaluarsa. Jangan dibeli apabila produk kosmetika telah melewati batas kadaluarsa. Hal ini karena telah terjadi pengurangan mutu produk.

"Hal lain yang perlu diperhatikan yaitu label, kegunaan dan penggunaan. Dibaca betul label yang ada dalam kemasan dan perhatikan no 2 dan 3 di atas serta nama produk, nama pabrik, nomor batch, nomor lot, kegunaan, cara penggunaan. Label harus dalam Bahasa Indonesia," katanya.

Ondri juga berpesan agar masyarakat tidak membeli produk kosmetik yang tercantum dalam daftar produk public warning yang dikeluarkan oleh Badan POM. Produk kosmetik yang masuk dalam public warning telah diuji mengadung bahan berbahaya diantaranya merkuri. Daftar produk public warning bisa dilihat di www.pom.go.id

Bila masih ragu, bisa menghubungi Halo BPOM 1500533 atau bila pakai android bisa download aplikasi cekBPOM. Dengan aplikasi ini bisa dilakukan sendiri apakah produk yang dibeli sudah terdaftar di Badan POM dengan memasukkan nama produk, nomor notifikasi atau kategori yang lain.

"Jadilah konsumen yang cerdas dalam memilih kosmetika," pesannya.

Senada dengan Ondri, Kepala Pusat Penelitian Kimia Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Agus Haryono mengatakan emas memang bisa larut dalam larutan merkuri dan memunculkan warna hitam. Namun jumlah merkuri yang terkandung dalam kosmetik jumlahnya sangat kecil dalam kisaran part per million (ppm).

"Sehingga menurut saya warna hitam itu tidak berasal dari campuran emas dan merkuri. Bisa saja dari campuran lain dalam kosmetik tersebut," kata Agus.

Selain itu menurut Agus, metode menggosok itu sebaiknya tidak dilakukan karena bisa berbahaya bagi kulit. Apalagi bila dalam kosmetik itu terdapat kandungan merkuri yang cukup banyak.

"Menggosok merkuri ke kulit sangat tidak direkomendasikan karena merkuri ini bisa menyebabkan kanker dan penyakit disorder lainnya," ucapnya.

Agus menyarankan bila memang ingin menguji apakah produk kosmetik yang digunakan mengandung merkuri atau tidak, sebaiknya dibawa ke tempat yang kompeten untuk melakukan uji laboratorium. Apalagi metode menggosok menggunakan emas itu belum tentu kebenarannya.

"Jadi menurut saya info tersebut lebih mendekati hoax," terangnya.


Kesimpulan:



Metode uji merkuri di kosmetik dengan menggunakan emas belum terbukti secara ilmiah dan mendekati hoax. Sebaiknya bila ingin menguji produk kosmetik apakah mengandung merkuri atau tidak, bisa dilakukan dengan cara seperti disebutkan di atas.



Jika Anda punya kabar yang belum pasti kebenarannya dan ramai menjadi pembicaraan publik, bisa kirimkan isu tersebut di sini.






(slm/mad)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed