Kronologi Kasus Tata Chubby dari Penemuan Mayat Hingga Vonis 16 Tahun Bui

Rina Atriana - detikNews
Selasa, 01 Des 2015 07:02 WIB
Foto: Hasan Al Habshy
Jakarta - Enam bulan sejak mayat Deudeuh Alfi Syarin alias Tata Chubby ditemukan dengan mulut tersumpal kaos kaki di kamar kostnya 11 April 2015 lalu, Priyo Santoso (25), sang pembunuh, kini telah divonis dengan hukuman 16 tahun penjara. Priyo terbukti melanggar pasal 338 KUHP tentang pembunuhan dan Pasal 363 tentang pencurian.

Kasus Tata Chubby memang cukup menyita perhatian sejak mayatnya ditemukan dalam kondisi disumpal kaos kaki pada April 2015 lalu. Berikut kronologi perjalanan kasus Tata Chubby hingga palu hakim diketuk untuk memvonis pelaku.

11 April 2015
Mayat Deudeuh ditemukan di kamar kostnya di kawasan Tebet, Jakarta Selatan, dalam keadaan leher terjerat kabel dan disumpal kaos kaki. Diduga ia dibunuh karena Deudeuh sempat menyinggung bau badan Priyo. Priyo tak terima dan gelap mata. Saat kabur usai membunuh, Priyo juga membawa serta handphone, ipad, dan uang milik Deudeuh.

15 April 2015
Priyo ditangkap di rumahnya di kawasan Bojong Gede, Bogor, oleh pihak kepolisian Polda Metro Jaya. Priyo ditangkap berdasarkan penelusuran sinyal handphone milik Deudeuh yang dicurinya.

Polisi selanjutnya menjerat Priyo dengan pasal pencurian dengan kekerasan dan penghilangan nyawa. "Dia kami jerat dengan pasal 365 KUHP dan pasal 338 KUHP. Hukuman maksimalnya 15 tahun," ujar Wakil Direktur Reskrimum Polda Metro Jaya, Kombes Albert Sianipar, Rabu (15/4). Priyo pun bebas dari hukuman mati, karena hukuman maksimalnya adalah penjara seumur hidup.

21 September 2015
Priyo menghadapi sidang perdana. Kala itu ia 'sibuk' menutupi wajahnya dengan tangan. Tak ada pihak keluarga yang tampak mendampingi Priyo.

2 November 2015
Setelah beberapa kali sidang, sampai lah di agenda penuntutan. Oleh jaksa penuntut umum Priyo dituntut hukuman 18 tahun penjara. Pasal 339 KUHP tentang pembunuhan yang didahului tindak pidana lain digunakan sebagai dakwaan primer. Pasal lainnya yang diterapkan jaksa yaitu Pasal 338 tentang pencurian, Pasal 365 tentang pencurian dengan kekerasan, dan Pasal 338 tentang pembunuhan.

11 November 2015
Priyo membacakan nota pembelaannya (pledoi) terhadap tuntutan jaksa penuntut umum. Sambil terisak, Priyo meminta maaf kepada pihak keluarga karena telah mengecewakan mereka.

"Saya sangat menyesalkan tindakan apa yang dilakukan saya menjadi keluarga malu. Bapak hakim, rasa ketahuan dan bersetubuh dengan PSK saya mencari dari Google. Menyewa PSK dari Twitter bisa langsung dibooking," ujar Priyo kala itu.

Atas alasan menjadi tulang punggung keluarga, ia meminta majelis hakim untuk meminta keringanan hukuman. Ia berjanji di hadapan majelis hakim bahwa tak akan mengulangi lagi perbuatannya.

30 November 2015
Sidang vonis digelar. Majelis hakim menjatuhkan hukuman 16 tahun penjara kepada pria yang berprofesi sebagai guru les itu. Ia terbukti melanggar Pasal 338 KUHP tentang pembunuhan dan Pasal 363 KUHP tentang pencurian. (rna/bag)