DetikNews
Rabu 28 Oktober 2015, 15:41 WIB

Tercorengnya Klan Limpo

PASTI LIBERTI MAPPAPA, Lala Lailatunnajah - detikNews
Tercorengnya Klan Limpo Foto: Lamhot Aritonang
Jakarta - Sebut nama Limpo! Bisa dipastikan hampir semua orang di Sulawesi Selatan tahu. Selama satu bulan penuh, Irman Yasin Limpo, si bungsu dari keluarga Limpo, menjadi pesohor televisi. Selama puasa Ramadan, Agustus lalu, ia muncul di televisi dengan menyanyi menjelang azan magrib.  
 
Tapi bukan cuma gara-gara nyanyian Irman klan Limpo menjadi terkenal. Seluruh warga Sulawesi Selatan mengenal Limpo karena keluarga ini sudah lama menjadi dinasti paling berkuasa di provinsi tersebut. Jabatan pemerintahan, dari bupati sampai gubernur, dikuasai klan ini. Di legislatif, dominasi mereka juga sangat kuat.
 
"Siapa yang tidak tahu keluarga Limpo? Mereka sangat terkenal," kata Sekretaris Jenderal Partai Hati Nurani Rakyat Berliana Kartakusuma.
 
"Keluarga Limpo sangat berpengaruh di Sulsel karena mereka menduduki jabatan-jabatan strategis," urai pengamat politik dari Universitas Hasanuddin, Makassar, Djayadi.
 
Jabatan strategis tertinggi di Sulawesi Selatan memang dikuasai keluarga Limpo. Gubernur Sulawesi Selatan dijabat Syahrul Yasin Limpo. Dialah anggota klan Limpo yang namanya paling moncer saat ini. Ia menjadi orang nomor satu di provinsi itu selama dua periode. Pada 2003, ia menjadi wakil gubernur. Pada 2008, dia terpilih menjadi gubernur dan terpilih kembali pada 2013.
 
Syahrul terkenal bukan cuma karena menjadi gubernur, tapi berkat banyaknya prestasi yang dia ukir. Pria yang diangkat menjadi pegawai negeri sipil pada 1980 itu pernah masuk nominasi kepala daerah terbaik dunia versi The City Mayor Foundation. Lembaga ini menetapkan Joko Widodo (saat menjabat Wali Kota Solo) dan Tri Rismaharini (Wali Kota Surabaya) sebagai wali kota terbaik dunia.
 
Gubernur Syahrul ternyata memiliki anak buah yang juga adiknya sendiri. Dua adiknya, Ichsan Yasin Limpo dan Irman Yasin Limpo, menjadi bupati. Ichsan adalah Bupati Gowa, sedangkan Irman, yang menyanyi di televisi selama bulan puasa, adalah Pelaksana Tugas Bupati Luwu Timur. Adik Syahrul lainnya, Haris Yasin Limpo, menjabat Direktur Utama PDAM Kota Makassar.
 
Sedangkan kakak Syahrul, Tenri Olle Yasin Limpo, tengah bersiap merebut jabatan serupa. Si sulung menjadi calon Bupati Gowa pada 2016 setelah menjabat Ketua DPRD Sulawesi Selatan. Ia bersaing dengan keponakannya sendiri, Adnan Purichta Ichsan Yasin Limpo. Adnan merupakan anak Ichsan, adik Tenri.
 
Bukan cuma kakak dan keponakan Syahrul yang mengincar jabatan, adik ipar Syahrul juga tengah memburu posisi serupa. Sementara Irman masih menjabat Bupati Luwu Timur, istrinya, Habsa Yanti Ponulele, menjadi calon Wali Kota Palu.
 
Di jalur politik, keluarga Limpo juga menanamkan kekuasaan dari DPRD sampai DPR pusat. Di DPR ada Dewie Yasin Limpo.  
Juga anak Syahrul, Indira Chunda Thita Syahrul Putri. Di daerah, ada Tenri Angka Yasin Limpo, adik Syahrul yang menjadi anggota DPRD Makassar. Lalu keponakan Syahrul, Akbar Danu Indarta Marwan, menjadi anggota DPRD Gowa.
 
"Dinasti Limpo ini kurang-lebih sama dengan dinasti Chasan Sochib di Banten (ayah mantan Gubernur Banten Ratu Atut Chosiyah). Sama seperti itu, bergerak menguasai dunia usaha, dunia politik, dan pemerintahan," kata Dr Djayadi.
 
Namun Irman membantah keluarganya sengaja membentuk dinasti untuk menguasai Sulawesi Selatan. "Tidak ada niat kami," kata Irman kepada majalah detik.
 
Bila keluarga Limpo sekarang menguasai jabatan di birokrasi pemerintahan dan politik, menurut Irman, semua terjadi secara alamiah saja. Keluarga Limpo sudah melek politik sejak kecil. Kekuasaan politik dirintis ayah mereka, Kolonel H M Yasin Limpo alias Yasin Daeng Limpo, dan sang ibu, Nurhayati.
 
Pasangan Yasin dan Nurhayati memiliki tujuh anak. Empat laki-laki dan tiga perempuan. Syahrul merupakan anak kedua. Yang tertua adalah Tenri Olle. Yang ketiga Tenri Angka, lalu Dewie, Ichsan, Haris, dan Irman.
 
Sarapan pagi di keluarga Yasin bukan sekadar mengisi perut. Pada pagi hari, tujuh anak-anak Yasin itu mendapat menu tambahan "kuliah politik", baik dari ayah maupun ibunya.
 
Yasin merupakan orang kuat di Sulawesi Selatan. Ia adalah penjabat sementara gubernur. Sebelumnya, ia menjabat bupati di tiga kabupaten Sulawesi Selatan. Sang istri, Nurhayati, berkali-kali menjadi anggota Dewan dari Fraksi Golkar.
 
Maka meja makan sering jadi ajang diskusi politik suami-istri itu. Anak-anak yang makan ikut mendengarkan. Bukan hanya Yasin dan Nurhayati yang memberi kuliah politik kepada mereka. Banyak tokoh politik datang untuk mengobrol dengan Yasin sehingga obrolan mereka pun juga didengarkan anak-anak Yasin.
 
"Ya, begitu, dari kecil sampai remaja lingkungan kami ya itu. Termasuk Pak JK (Jusuf Kalla) juga orang yang suka berkonsultasi ke bapak kami," kata Irman. "Seandainya dari kecil sarapan paginya pembicaraan usaha, pasti kami jadi pengusaha."
 
Bukan hanya sarapan politik, Yasin juga mewariskan modal yang lengkap untuk anak-anaknya menempuh jalan menjadi penguasa. Yasin bisa dikatakan memiliki segalanya untuk mendulang dukungan massa. Ia bangsawan, punya beking tentara, punya mesin politik, juga dukungan organisasi keagamaan serta kepemudaan.
 
Yasin merupakan bangsawan Gowa dari Cikoang Bontonompo. Lahir pada 17 Juni 1924, Yasin muda bergabung dengan pasukan gerilya saat penjajahan Belanda. Pada 1960, Yasin aktif dalam mendirikan Sentral Organisasi Karyawan Swadiri Indonesia (SOKSI), cikal bakal Golkar.  
 
Lewat SOKSI-lah Yasin kemudian mendapat jabatan penting di Golkar, lalu menjadi bupati sampai tiga kali hingga kemudian menjadi gubernur sementara Sulawesi Selatan. Menurut Djayadi, salah satu kunci sukses Yasin adalah jaringan hingga penguasa di tingkat nasional.  
 
"Dia juga dikenal agak dekat dengan Cendana (keluarga mantan presiden Soeharto) pada saat itu," kata Djayadi.
 
Selain aktif di politik, Yasin dan Nurhayati aktif di organisasi kemasyarakatan Muhammadiyah. Yasin merupakan pendiri Muhammadiyah Sulawesi Selatan. Nurhayati pun menjadi Ketua Aisiyah, organisasi wanita Muhammadiyah, di provinsi tersebut. Yasin juga aktif di Pramuka.
 
Aktivitas Yasin ini seperti otomatis diwariskan kepada anak-anaknya. Setelah Yasin meninggal pada 4 Agustus 2009, anak-anak Yasin mengikuti jejak Yasin aktif di Golkar ataupun underbow Golkar lainnya. Seperti ayah-ibunya, mereka pun menapaki posisi-posisi strategis.
 
Golkar dikuasai klan Limpo. Syahrul, selain sebagai gubernur, merupakan Ketua Dewan Pimpinan Daerah Golkar Sulawesi Selatan periode 2009-2014. Adiknya, Ichsan, menjabat Wakil Bendahara Golkar Sulawesi Selatan. Adik Syahrul lainnya, Haris, menjabat Ketua Harian DPD Golkar Makassar. Kakak Syahrul, Tenri, menjadi Ketua DPD II Golkar Gowa. Ponakan pun ada yang menjadi pengurus DPD Golkar Sulawesi Selatan.
 
Tidak cuma lewat Golkar, klan Limpo pun melebarkan sayap dengan masuk partai politik lain. Misalnya anak Syahrul, Indira, masuk Partai Amanat Nasional. Dewie masuk Partai Hati Nurani Rakyat.
 
Perbedaan parpol itu sempat dinilai sebagai perpecahan dalam keluarga Limpo. Apalagi kemudian terjadi persaingan di antara mereka sendiri dalam pilkada. Ketika persaingan itu terjadi, Irman muncul di televisi dengan nyanyian yang isinya merindukan sang ayah, Yasin. Sosok pemersatu keluarga Limpo itu biasa mengumpulkan anaknya untuk rapat keluarga sebelum mengambil keputusan berat.  
 
"Dia selalu mengingatkan, segala sesuatu itu ada risikonya," kata Irman.
 
Meski menjadi dinasti, klan Limpo belum pernah diberitakan bermasalah dengan hukum, hingga kemudian muncul kasus Dewie. Ia ditangkap Komisi Pemberantasan Korupsi. Dewie disangkakan menerima suap Rp 1,7 miliar dalam proyek pembangkit listrik tenaga mikrohidro.
 
Syahrul mengatakan tindakan Dewie sama sekali tidak ada kaitannya dengan pemerintah Sulawesi Selatan. Irman juga menegaskan, tindakan Dewie merupakan tindakan pribadi dan tidak ada kaitannya dengan keluarga. "Dia manusia dewasa," kata Irman.
 
Tapi peneliti Divisi Hukum dan Politik Anggaran Indonesia Budget Center, Roy Salam, ragu Dewie bergerak sendirian tanpa koordinasi dengan keluarga. Bagi Roy, tetap ada kemungkinan keluarga Limpo lainnya terlibat.  
 
"Tanpa dia meminta persetujuan kakaknya, dia menggunakan nama kakaknya pun boleh, misalnya klaim," kata Roy.


(iy/nwk)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed