Tak cuma di Jakarta dan Bandung, Fenomena Kabut Juga Ada di Semarang

Tak cuma di Jakarta dan Bandung, Fenomena Kabut Juga Ada di Semarang

Angling Adhitya Purbaya - detikNews
Jumat, 23 Okt 2015 17:35 WIB
Tak cuma di Jakarta dan Bandung, Fenomena Kabut Juga Ada di Semarang
Suasana Jalan Pahlawan Semarang (Foto: Angling Adhitya P/detikcom)
Semarang - Kabut tipis sempat menyelimuti wilayah Kota Semarang siang hari ini. Sejumlah warga sempat bertanya-tanya dan mengira kabut tersebut merupakan asap kebakaran dari suatu tempat.

Sekira pukul 14.00 WIB, Jumat (23/10/2015), kabut tipis tersebut terlihat semakin pekat meskipun tidak terlalu berdampak dengan jarak pandang. Dari pantauan detikcom di Jalan Pahlawan, Ahmad Yani,Β  dan Menteri Supeno kabut tersebut cukup terlihat.

"Ini asap apa? Lihat ke arah daerah atas kok jarak pandang berkurang, " tanya salah satu warga, Tia di Jalan Pahlawan, Jumat (23/10/2015).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Hal senada dilontarkan oleh beberapa warga lainnya karena cukup terlihat jika memandang ke lokasi yang lebih dari 1 kilometer. Kabut tersebut ternyata tidak bertahan lama, sekira pukul 16.00 kabut tersebut sudah sangat berkurang.

BMKG Semarang (Foto: Angling AP/detikcom)

Kepala Seksi Data dan informasi BMKG Semarang, Reni Kraningtyas, saat dikonfirmasi detikcom mengatakan kabut tersebut bukan asap apalagi kabut asap dari Kalimantan. Hal itu merupakan fenomena adveksi yang bisa terjadi satu atau dua hari ketika massa udara basah dan massa udara kering bertemu.

"Sekarang itu ada perambatan massa uap air kering atau massa udara panas secara horisontal dalam skala besar. Itu dari Samudera Hindia ke Utara. Kemudian massa udara basah dari arah Utara sekitar Kalimantan dan Laut Jawa menuju Selatan dan bertemu di pulau Jawa," kata Reni saat ditemui detikcom di kantornya, Jalan Siliwangi Semarang, Jumat (23/10/2015).

Pertemuan massa udara basah dan kering tersebut membentuk bidang batas di pulau Jawa sehingga membentuk kondisi cuaca seperti kabut. Proses tersebut bernama adveksi atau pergerakan udara panas secara horisontal, tidak ke atas seperti pembentukan awan hujan.

"Membentuk bidang batas di pulau Jawa. Jadi pertemuan massa udara basah dan kering mengakibatkan kondisi cuaca berkabut," tandasnya.

Ia kemudian menunjukkan gambar citra satelit Himawari 8 WV (Water Vapor) Enhanced yang memperlihatkan udara basah ditandai warna biru di laut Jawa, Sumatera, dan Kalimantan kemudian udara kering di Samudera Hindia dengan warna merah tua. Dua warna tersebut membentuk batas di pulau Jawa.

"Tadi saya kontak-kontakan dengan teman-teman di Jakarta dan Bandung, juga terjadi fenomena serupa. Ini bisa terjadi sehari atau dua hari," tegasnya.

Reni juga menjelaskan kalau kabut asap dari Kalimantan atau Sumatera tidak sampai ke pulau Jawa hanya sampai di Laut Jawa. Sedangkan kebakaran di Gunung Lawu tidak sampai ke Semarang karena kebakaran tersebut skalanya tidak sebesar di Kalimantan.

"Kesimpulannya, berkabut ini bukan asap gunung Lawu karena kebakarannya kecil," pungkas Reni. (alg/try)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads