Emas biru sendiri dimaksudkan sebagai istilah budidaya perikanan di Maluku dan Maluku Utara, termasuk Ambon, yang berpotensi dapat mengangkat perekonomian warga. Meski memiliki sumber daya laut yang kaya, di wilayah Maluku kurang dimanfaatkan dari sisi pembudidayaan.
Warga hanya memanfaatkan laut dengan ikan hasil tangkapan saja. Sehingga untuk mendapatkan nilai guna lebih, Kodam Pattimura baru saja memberi pelatihan budidaya ikan bagi masyarakat. Yaitu dengan cara karamba jaring apung.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Soal itu, kami di sana sudah bicarakan dengan rektor Universitas Pattimura dan ada 1 kampus lain. Itu yang membantu mengembangkan perikanan di sana karena Universitas Pattimura punya fakultas perikanan," ujar Nasir di Kepulauan Seribu, Rabu (23/9/2015) lalu.
Budidaya 'Emas Biru' |
"Fasilitas pengembangan ini dilakukan bersama masyarakat, tapi yang penting masyarakat ini kalau sudah panen mau diapakan. Jadi nanti perlu ada investor yang bisa menyediakan cold storage dan bantu pemasarannya," katanya.
"Nanti akan saya sambungkan ke Perusahan Perikanan Umum Indonesia (Perindo). Jadi mereka juga akan bantu fasilitasi karamba-karambanya. Dengan peningkatan fasilitas, pemanfaatan oleh masyarakat, tapi juga soal penjualannya. Nanti bisa dengan ini," lanjut Nasir menyambut positif.
![]() |
Alat konversi milik Hakim dapat menghemat biaya bahan bakar nelayan saat mereka melaut untuk mencari ikan. Penghematan bisa sampai Rp 250 ribu/hari.
"Converter ini karena kita ingin mencoba mengalihkan penggunaan energi yang berasal dari bensin atau solar ke gas. Diharapkan masyarakat bisa beralih dari bensin dan solar ke gas ini ada unsur penghematan. Negara dalam hal ini dapat mensuplai dan keuntungan masyarakat dapat lebih terpenuhi dengan baik," jelas Nasir.
"Ini contoh nelayan, kita coba konsentrasi ke sini. Kalau memang sudah oke kita launching di Cilacap atau di mana dengan presiden atau menteri ESDM untuk penghematan energi. Kita coba dengan UMKM, kalau bisa kita akan kumpulkan nelayan, audiensi dan langsung beberapa diberi contoh," imbuhnya.
Kembali mengenai emas biru di Maluku, BPBL Ambon pada tahun 2014 mampu memproduksi 600 juta butir telur kerapu dan ikan kakap. Dari 600 juta butir telur, hanya 10 juta yang bisa dipelihara karena BPBL kekurangan fasilitas. Sisanya dibuang ke laut. Jika beruntung, telur-telur akan menetas. Jika tidak, telur akan rusak atau dimakan ikan.
"Ya karena bak tampung dan sarana lainnya kurang. Dari 10 juta butir tekur itu yang jadi cuma 120 ribu bibit dengan ukuran sekitar 7 cm. Beberapa ada yang mati juga saat dikembangkan dari karamba," terang Kasie Uji Terap Teknis dan Kerjasama BPBL Ambon, Heru Salamet, Minggu (13/9).
Ikan kerapu ini disebut Heru memiliki kualitas kelas ekspor dan jika tergarap dengan baik, kerapu akan mampu mengalahkan salmo untuk produksi perikanan dunia. Pengembangan yang dilakukan dengan fasilitas memadai, hasilnya pun sudah pasti akan jauh lebih baik.
"Kalau ada dukungan, kerapu bisa mengalahkan salmon di tingkat dunia. Apalagi kita punya komunitas banyak seperti kakap putih juga. Kalau diekspoer bisa menghasilkan banyak keuntungan untuk negara," tukas Heru.
"Bisa dibayangkan jika digarap dengan baik, 600 juta juta telur ikan itu bisa milyaran hasilnya pertahun. Pelatihan budidaya ikan yang kami lakukan sendiri bisa juga dilakukan ke daerah lain di Maluku dan Maluku Utara seperti Tual dan Halmahera," imbuh Mayjen Doni dalam kesempatan yang sama.
Upaya program emas biru, dan juga emas hijau mengenai penanaman pohon, dilakukan Doni untuk membantu meningkatkan perekonomian warga. Meski memerlukan waktu yang agak lebih lama, hasilnya disebut Doni akan jauh lebih signifikan.
"Itu bisa membuat lapangan pekerjaan baru, dan membatu warga meningkatkan perekonomian mereka. Jika lapangan kerja dan ekonomi terjamin, keamanan pun akan terjaga," tutup jenderal bintang 2 itu. (elz/faj)











































Budidaya 'Emas Biru'