DetikNews
Rabu 23 September 2015, 00:10 WIB

Cerita Komandan Jihad Maluku yang Kini Sebarkan Paham Anti Radikal

Idham Kholid - detikNews
Cerita Komandan Jihad Maluku yang Kini Sebarkan Paham Anti Radikal Foto: Idham Khalid
Jakarta - Jumu Tuani kini aktif memberi ceramah pencerahan tentang kesesatan paham terorisme dan ISIS baik kepada tahanan teroris maupun masyarakat di berbagai kota. Bahkan, dia bertekad untuk terus berceramah agar masyarakat terhindar dari paham-paham radikal.

Jumu merupakan Komandan Jihad Maluku dan Panglima Operasi Pusat Komando Jihad Maluku (PRJM) Tahun 1999-2000 dan narapidana yang terlibat dalam perbantuan terorisme. Jumu pun membuka cerita bagaimana dia diangkat menjadi Komandan.

"Kaum muslimin di Ambon dibantai habis-habisan secara membabi buta yang dikenal dengan peristiwa idul fitri Januari tahun 1999 disitulah timbul hasrat saya untuk membela, apalagi setelah saya tahu yang melakukan itu RMS, Republik Maluku Selatan," kata Jumu memulai kisahnya saat diwawancara detikcom dan jurnalis Kompas di Tasikmalaya, Senin (21/9/2015).

Jumu kemudian mengumpulkan para pengungsi yang ada di masjid Al-fattah hingga terbentuklah Aliansi Korban Kerusuhan Muslim Maluku. Saat itu Jumu berpikir konflik sudah mereda. Namun pembantaian kembali terjadi pada 27 juli 1999.

Jumu mengatakan, RMS merupakan kelompok separatis yang ingin merdeka dari Indonesia. RMS tidak hanya terdiri dari umat kristiani, umat islam juga tidak sedikit yang terlibat di kelompok itu.

"Di situlah saya mengobarkan jihad kaum muslimin, lalu mereka mengangkat saya sebagai Komandan," ujarnya.

Seiring berjalannya waktu dan pembantaian kembali terjadi, lanjut Jumu, kaum muslimin dari masing-masing desa se-Provinsi Maluku membentuk posko-posko jihad di masing-masing desa. Dari posko-posko jihad itu kemudian terbentuk Pusat Komando Jihad Maluku, dan Jumu diangkat secara aklamasi menjadi komandan.

Jumu menjelaskan, bahwa komando jihad pimpinannya bukan berpaham radikal. Namum, dalam barisan mereka ada orang-orang berpaham radikalis yang menyusup.

Lalu, kenapa akhirnya muncul kesalahpahaman dan Jumu juga ditangkap dan dituduh teroris?

"Begini, saya tidak memungkiri bahwa apa yang dilakukan oleh saya juga ada penyimpangan, walaupun saya membela NKRI," ujarnya.

Jumu menjelaskan, penyimpangan yang dimasksudnya adalah, karena pada Januari 2002, Jusuf Kalla yang saat itu menjabat Menko Kesra dan Susilo Bambang Yudhoyono menjabat Menko Polhukam mengimbaunya untuk mengikuti rekonsiliasi agar Ambon menjadi damai. Peristiwa itu dikenal dengan Perjanjian Malino.

"Disitu saya menolak, karena mungkin personel saya masih ada, sampai saat kontingen itu mau berangkat, saya tetap menolak ikut," kisahnya.

Setelah itu, Jumu juga sempat melarikan diri dan bersembunyi di daerah Fak-fak, Papua bersama istri dan anak-anaknya. Disana dia bekerja mencari kayu gaharu ke hutan dan menjualnya ke Jakarta. Pelarian ke Papua itu berlangsung hingga 9 tahun.

"Yang jelas saya disana tidak terenduslah, karena mungkin saya pandai berkamuflase. Tapi ibu saya sebelum meninggal beliau menyarankan kepada saya untuk menyerahkan diri, cuma pada saat itu saya berpikir kalau saya menyerahkan diri siapa yang akan memperhatikan anak istri saya," tuturnya.

Setelah 9 tahun bersembunyi, Jumu kemudian memutuskan untuk kembali ke Ambon pada sekitar September 2012. Pada suatu malam, ada seseorang yang datang ke rumahnya dan ingin membeli senjata api ke Jumu.

"Dia minta beli senjata kepada saya, mungkin dia tahu latar belakang saya. Saya tidak mau jual, dia desak-desak, ternyata senjata itu mau dipakai di Poso. Alasannya katanya karena umat Kristen mau menyerang umat muslim disana yang dikenal dengan Josep 1212,"

Melihat Jumu yang tetap tidak mau menjual senjata, 'sang tamu' kemudian membantingkan uang sebesar Rp 20 jutaan lebih sembari terus mendesak Jumu untuk menjual senjata.

"Padahal orang ini DPO, dia turun dari pesawat sudah dipantau oleh Densus di ambon, sudah diikuti malam itu. Setelah dia (tamu) pulang ke Makassar, saya ditangkap, mungkin karena hasil pengembangan intelijen, 'loh ternyata ini orang ini yang punya rumah ini, saya ditangkap, dan memang ada senjata. Saya dikenai pasal kepemilikan senjata," kisahnya.

"Saya ketangkap istri lagi hamil 9 bulan. Saya digiring ke Mako brimob, lima hari di Mako brimob istri menelepon," tuturnya.

Menurut Jumu, perjalanan waktu dan memperdalam ilmu agama membuat dia sadar bahwa apa yang pernah dilakukannya merupakan suatu kesalahan.

"Setelah saya mendalami ilmu agama yang secara komprehensif, terutama masalah khawarij, disitulah saya sadar bahwa membangkang pada penguasa itu adalah khawarij, salah satunya adalah teroris itu," ujarnya.

"Jadi saya tidak marah kalau disebut teroris, karena memang dulu saya membangkang tidak mau ikut, padahal bukan saya lawan dengan senjata, cuma karena pembangkangan tidak mengikuti perjanjian damai," sambungnya.

Jumu tidak menyesal akhirnya tertangkap Tim Densus. Dia justru bersyukur bahwa dengan tertangkap dia kemudian bisa memberi pencerahan tentang kesesatan paham terorisme, baik kepada tahanan terorisme di Lapas Maka Brimob maupun di berbagai kota di Indonesia.

"Saya bersyukur kepada Allah bahwa dengan tertangkapnya saya, saya bisa mendakwahkan tentang kesesatan khawatir, kelompok radikal yang ada dalam islam. Yang kedua, bahwa dengan tertangkapnya saya, status hukum saya bisa jelas. Artinya setelah saya bebas, selesai," pungkasnya.


(idh/rvk)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed