detikNews
Jumat 25 Februari 2005, 20:56 WIB

Perundingan RI-GAM, RI Tolak Keterlibatan Pihak Asing

- detikNews
Jakarta - Pemerintah menolak keterlibatan pihak asing dalam pembicaraan untuk menyelesaikan konflik Aceh, baik sebagai mediator maupun penasehat di struktur delegasi GAM. Oleh karena itu, delegasi RI akan menitikberatkan porsi keterlibatan lembaga-lembaga asing dalam setiap proses penyelesaian konflik Aceh pada pertemuan lanjutan dengan GAM bulan April mendatang.\\\"Kita tidak ingin internasionalisasi. Keterlibatan pihak asing sebatas fasilitator saja,\\\" tegas Menko Polhukam Widodo AS di Kantor Kepresidenan, Jakarta, Jumat (25\/2\/2005).Pernyataan tersebut ia sampaikan usai melaporkan hasil pertemuan lanjutan dengan GAM di Helsinki, Finlandia, kepada Presiden SBY. Widodo hadir didampingi oleh Menteri Hukum dan HAM Hamid Awaluddin serta Menkominfo Sofyan Djalil. Pertemuan kedua RI-GAM pada 21 Februari, difasilitasi sebuah lembaga internasional bernama Crisis Management Initiative (CMI) yang dipimpin oleh Mantan Presiden Finlandia, Martti Ahtisaari.Pada pertemuan tersebut, delegasi GAM menyertakan sebuah LSM asing dalam setiap pembicaraan sebagai international advisor<\/i>. Tapi perkembangannya, justru LSM inilah yang lebih aktif, dan akhirnya mengajukan konsep self government<\/i> sebagai solusi alternatif penyelesaian. Konsep itu muncul setelah adanya perbedaan pemahaman atas konsep Otonomi Khusus yang merupakan tawaran Pemerintah RI kepada GAM untuk hidup berdampingan di NAD pasca konflik. \\\"Belum jelas maksud self government<\/i>. Mungkin ini hanya istilahnya saja. Tapi bagi kami Otonomi Khusus bukan istilah, melainkan produk hukum dari sebuah negara berdaulat,\\\" kata Widodo.Lebih lanjut ia mengatakan, presiden mengintruksikannya agar lebih fokus pada upaya peningkatan keamanan di wilayah NAD, demi efektifnya upaya tanggap darurat terhadap para pengungsi pasca bencana tsunami.Kondisi keamanan yang kondusif juga sangat dibutuhkan agar pelaksanaan setiap tahapan kegiatan rekonstruksi dan rehabilitasi di daerah bencana yang mengerahkan sumber daya dalam jumlah besar dapat berjalan efektif.\\\"Banyak cara yang bisa ditempuh untuk selesaikan konflik. Pertemuan informal itu hanya salah satunya,\\\" tambah Widodo.


(ast/)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com