detikNews
Minggu 23 Agustus 2015, 08:59 WIB

Upaya Ekstra untuk Lestarikan Kapur Barus di Tapanuli Tengah

Indah Mutiara Kami - detikNews
Upaya Ekstra untuk Lestarikan Kapur Barus di Tapanuli Tengah Foto: Indah Mutiara Kami
Tapanuli - Kapur barus yang biasa kita gunakan sehari-hari, dulu merupakan komoditas yang tersohor dari Barus, Tapanuli Tengah, Sumatera Utara. Kini, butuh upaya ekstra untuk melestarikan tanaman yang pernah menjadi buruan pedagang seluruh dunia ini.

Pada masa lalu, Barus yang berada di pantai barat Sumatera adalah kota pelabuhan yang ramai. Selain rempah-rempah, para pedagang dari Arab juga tertarik dengan keharuman dari kapur barus dan membawanya ke daerah asal masing-masing.

Foto: Indah Mutiara Kami/detikcom


Kehebatan kapur barus tersebar ke seluruh dunia hingga ribuan tahun. Eksplorasi selama berabad-abad justru membuat tanaman ini menjadi sulit ditemukan di tanah asalnya.

Saat ini, pelestarian tanaman kapur barus kembali digaungkan di Tapanuli Tengah. Wisatawan yang datang ke kabupaten ini diajak untuk menanam kapur barus, termasuk para duta besar yang datang ke Makam Mahligai di Barus.

Duta besar dan perwakilan negara sahabat dari Afghanistan, Aljazair, Azerbaijan, Bangladesh, Bulgaria, Kroasia, Irak, Jordania, Kazakhstan, Laos, Libya, Myanmar, Pakistan, Palestina, Polandia, Arab Saudi, Sudan, Seychelles, Turki, Uni Emirat Arab, Ukraina, Uzbekistan, Laos, Suriname dan Yaman datang ke Barus pada Sabtu (22/8/2015). Mereka diundang oleh Special Envoy of Seychelles for ASEAN, Nico Barito dan Kabupaten Tapanuli Tengah.

Para duta besar diajak untuk melihat sejarah masuknya Islam ke Nusantara lewat makam para syekh di Makam Mahligai. Setelah itu, duta besar ikut menanam pohon kapur barus.

Para duta besar yang sejak awal sudah tertarik dan tidak sabar kemudian berdiri berjajar di depan tanaman dengan bendera masing-masing negara. Bersamaan, mereka lalu memasukkan tanaman kapur barus ke pot dan menyiramnya dengan air.

Meski penanaman kembali sudah sering dilakukan, namun tanaman kapur barus itu tak bisa langsung disadap dan dinikmati keharumannya. Butuh kesabaran tinggi karena perlu waktu lama untuk bisa menyadapnya.

Foto: Indah Mutiara Kami/detikcom


"Masih membutuhkan waktu 200 tahun lagi untuk tumbuh," kata pemandu yang menjelaskan kepada para duta besar.

Para duta besar kemudian mengabadikan momen langka ini dengan berfoto bersama di depan bendera asal negara masing-masing bersama Plt Gubernur Sumut Tengku Erry Nuradi, Plt Bupati Tapanuli Tengah Syukran Jamilan Tanjung dan jajarannya. Persahabatan antar negara terjalin sambil terus melestarikan komoditas asli nusantara.
(imk/dhn)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed